Harga Telur Stabil, Ini Kata Peternak Ayam di Blitar

SURABAYAONLINE.CO- Peternak ayam Blitar yang melakukan demo di depan Istana Negara Jakarta, karena harga telur terus anjlok, membuahkan hasil. Saat ini peternak ayam petelur di Blitar merasa tenang. Pasalnya harga telur terus stabil di pasaran. Bahkan selama sepekan, mengalami kenaikan di kisaran Rp 3.000/kg.

Peternak menilai, jurus yang dilancarkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, I Ketut Diarmita, ampuh membuat harga telur di pasaran tetap stabil.

“Jujur saya mau bilang, matur nuwun Pak Ketut. Cara yang dilakukan pak ditjen, manjur bikin harga telur stabil. Pak Ditjen sangat tegas memegang dan meminta komitmen semua pihak yang dilibatkan untuk urusan ini,” kata Pengurus Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar, Sukarman kepada detikcom, Rabu (22/11/2017).

Gejolak aksi demo kalangan peternak Blitar, membuat pejabat Kementan itu gerah. Peternak menggelar demo skala besar di depan Istana Negara Jakarta, karena harga telur anjlok di kisaran Rp 13.300/kg. Ditjen PKH, I Ketut Diarmita pun ke Blitar dua kali.

Blitar merupakan sentra produsen telur No 3 di Indonesia. Peternak sebanyak 4.431 dengan populasi ayam sekarang sekitar 11 juta, mampu menghasilkan 300 ton telur/hari.

Dalam rapat koordinasi dengan peternak, bulog, integrator dan satgas pangan di Blitar, diputuskan beberapa kesepakatan, menjadi aturan bersama. Sesuai dengan Permentan 32 tahun 2017, tentang penyediaan peredaran dan pengawasan ayam ras dan telur konsumsi.

Di antaranya, pengurangan 25% populasi ayam petelur, pengawasan distribusi pakan ayam oleh satgas pangan melalui bulog. Selain itu juga adanya pembatasan peredaran telur breeding dari para integrator.

“Sekarang ada jaminan stok pakan jagung dari bulog. Dan kami juga mendapatkan harga jagung bulog yang murah. Saat ini jagung bulog (impor) harganya Rp 3.500/kg. Sedangkan jagung lokal mencapai Rp 3.700/kg,” ungkap Sukarman.

Dengan aturan baru tersebut, harga telur berangsur merangkak naik. Mulai Juli 2017 di kisaran Rp 16.500 dan makin bertambah tinggi jelang akhir tahun ini.

“Bulan Oktober itu masih Rp 18.500/kg, itu artinya kami bisa nutup biaya operasional. Lalu pelan-pelan naik lagi sampai Rp 19.000/kg. Dan sepekan ini ada yang laku sampai Rp 20.000/kg,” terang peternak warga Ponggok Kabupaten Blitar ini.

Menurut prediksi Sukarman, kemungkinan harga telur masih merangkak naik. Apalagi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

“Ini ayamnya jadi sedikit, otomatis produksi telur juga turun. Jadi kalau permintaan meningkat pasti harga akan naik lagi, bisa sampai Rp 22.000 per kg,” harapnya.

Namun kemungkinan itu tidak akan terealisasi, jika tidak ada pengawasan peredaran telur breeding di pasaran.

“Biasanya kalau menjelang hari raya dikeluarkan banyak. Terutama dari daerah Mojokerto, Sidoarjo dan Jombang. Kalau di sentra ternak petelur memang tidak pernah ditemukan. Ya harus diawasi lagi, kalau ketemu langsung laporkan satgas pangan,” kata Sukarman dengan nada tinggi. (detik.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *