Pencitraan dan Obyektifitas, Kita Tunggu Siapa Pemenangnya

SURABAYAONLINE.CO — PAGI tadi tiba tiba HP berbunyi.

“Dimana mas ?”
“Di rumah, ada tugas ? Ada perintah ?” Jawab saya cepat.
“Jangan gitu mas. Saya nanti ke Surabaya. Ada waktu 2 jam kita bisa ngobrol.”
“Siap mas, sambil makan di Juanda ya ?”
“Ok, siap. Saya flight pertama.”

Meluncur ke Juanda, bertemu, berangkulan, menemui sahabat yang lama tidak jumpa, meski tak pernah lepas komunikasi. Sahabat satu ini konsultan politik. Beberapa cagup, cabup, caleg sempat ia antarkan menuju kursi jabatannya. Maka, wajar ia laris dan tak pernah henti.

“Dalam rangka apa ke Jawa Timur. Arah mana ini he he he.”

“Barat tengah, he heee,” jawabnya.

“Oh paham-paham.”

Sambil makan, kamipun ngobrol panjang. Sampai pada satu topik yang hangat.

“Sampeyan kenal baik Emil Dardak, Bupati Trenggalek, ? ” tanya saya.

” Kenal. Tapi gak begitu akrab. Saya agak paham dia.”

“Saya heran saja. Nama dia disebut sebut terus. Saya kesulitan cari referensi kenapa dia jadi sosok yang diperebutkan. Saya buka sejumlah referensi yang saya temukan hanya dia anak muda, progresif, tetapi ubah Trenggalek menjadi moncer kok belum kelihatan, ” tegas saya meminta jawaban kawan yang ahli politik ini.

“Politik itu dinamis mas. Apalagi Indonesia. Pencitraan masih menjadi andalan. Lihat bagaimana Megawati yang kuat partainya, besar namanya, tumbang dengan SBY. Semua karena pencitraan. Dan teori politik sebagai panglima, hancur lebur. Kalau kekalahan Mega sama Gus Dur beda. Itu soal momentum.”

“Tapi zaman sudah bergerak. Rakyat makin kritis, medsos makin merajai. Apa teori pencitraan masih berlaku ?”

“Kayaknya masih. Ini juga menjawab pertanyaan sampeyan tadi soal Emil Dardak. Jelas dia selama ini berafiliasi ke PDI, tapi banyak partai lain “tanpa risih” merayu dia menjadi calonnya. Karena bagi partai, Emil sosok yang mudah dicitrakan. Mudah digosok dan dijadikan permata yang disukai masyarakat.”

“Pertanyaannya betulkah dia permata ? Bukankah dia 1 periode saja belum selesai. Masak dia kalahkan orang orang hebat di Jawa Timur kayak Masfuk, Kang Yoto, Heru Tjahjono, Hasan Aminudin yang sama sama sudah 2 periode menjadi bupati dan sukses memajukan daerahnya ?

“Nah, disitulah masalahnya. Teori pencitraan gugurkan rasionalitas. Subyektif dan karya tidaklah menjadi bahan yang diperhitungkan. Ukurannya hanya cinta dan citra. Lantas media berperan maksimal sehingga orang yang tidak kenalpun menjadi cinta. Menjadi sok mengenal, menjadi jatuh cinta tanpa mengetahui lebih dalam siapa sosok yang dicintainya itu.”

Menarik kawan ini menganalisa. Saya hanya diam dan mendengar. Dia melanjutkan analisanya.

“Bayangkan. Sekarang ada Cagub Khofifah dan Cagub poros baru, sama sama menyebut Emil Dardak. Seolah dia gadis yang sedang mekar mekarnya. Inilah bukti pencitraan mengalahkan obyektifitas dan rasionalitas.”

“Tapi mas, harusnya partai sebagai otoritas pencalonan melihat juga karya seseorang. Bukan saja karena muda, progesif dan milenial, lantas legitimed ? ”

“Kalau mau obyektif demi masa depan Jawa Timur, harusnya memilih orang yang sudah terbukti sukses. Misalnya, Azwar Anas Bupati Banyuwangi, dia muda dan mampu gunakan genre milinealnya dalam banyak program. Kang Yoto, membangun komunikasi bagus dengan rakyatnya, Masfuk, Heru Tjahyono, Hasan Aminudin, atau tokoh lain. Jadi banyak pilihan.”

“Jangan-jangan karena faktor istrinya artis ? Itu gorengan mudah menaikkan citranya ? ” tanya saya.

“Betul-betul. Faktor utama kayaknya. Ha ha haa.. “politics of image” bukan karena karya tapi karena popularitas. Padahal Jatim jagonya bagus bagus, sayang kalau akhirnya masyarakat “dipaksa” menerima calon tanpa pertimbangan obyektifitas. Pertimbangannya media dan image yang dibangun.”

Dialog itu akhirnya berakhir karena waktu yang membatasi.

Saya jadi ingat penjelasan John Hartley. “Narasi
berita hampir mirip dengan sebuah novel atau karangan fiksi yang memunculkan sosok pahlawan dan penjahat.”

Kalaupun tidak penjahat, setidak tidaknya partai dan media tidak mau lagi mengangkat orang orang hebat, calon baik menjadi bahan pertimbangan. ” Menutupi kebaikan itu juga kejahatan” gumam saya dalam hati.

Siapakah pemenangnya kelak ? Obyektifitas atau pencitraan ? Kita tunggu saja.

Surabaya, 21 November 2016

Penulis Founder MEP Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *