Jaringan dan Jaring yang “Methel”

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada 2018

SURABAYAONLINE.CO – SALAH satu kekuatan yang diandalkan manusia modern adalah jaringan alias network. Bahkan dalam sebuah teori, jaringan memiliki peran 30 sampai 40 % bagi kemajuan seseorang, kemajuan daerah bahkan kemajuan bangsa.

Dr. Frank Minirth dalam bukunya berjudul You Can, mengungkapkan bahwa networking adalah seni berkomunikasi satu sama lain, berbagi ide, informasi dan sumberdaya untuk meraih kesuksesan individu ataupun kelompok.

“Networking is a process of getting together to get ahead. It is the building of mutually beneficial relationship. – Networking adalah proses kebersamaan.

Networking alias jaringan inilah yang dibangun cukup lama 2 tokoh yang sedang mau maju di Pilkada Jawa Timur. Bahkan keduanya, diketahui sama sama memiliki jaringan yang luas.

Gus Ipul yang dikenal humbel dan jago silaturahmi, memiliki Jaringan sampai lini bawah. Kedekatan dia dengan kyai dan tokoh masyarakat, menjadikan ia memiliki simpul simpul strategis terutama dijalur NU. Ia “memegang” banyak penentu kebijakan di kaum nadliyin Jawa Timur.

Sementara, kita mengetahui, Khofifah juga memiliki network dan jaringan yang tidak kalah dengan Gus Ipul. Sebagai Ketua Umum Muslimat, ia punya jaring-jarimg sampai kelevel akar rumput.

Pengurus Muslimat dikenal solid dan kompak. Ibu ibu ini kekeh memegang prinsip dan kesetiaan. Sehingga kekuatan inilah yang diandalkan Khofifah.

Karena dianggap imbang, maka cawagub mereka menjadikan point penting untuk mendukung posisinya. Namun bahasan soal Cawagub akan coba tulis sendiri dilain kesempatan. Kali ini bahasan fokus soal network alias jaringan.

Lantas betulkah jaringan jaringan ini akan mampu menjaring pemilih dalam Pilkada Jatim 2018 ? Dan sejauh mana mereka berhasil menggunakan kekuatan network itu untuk memenangkan pertarungan pilkada ?

Ada tiga catatan yang saya tawarkan :

Pertama, jaringan dua tokoh ini bertumpu pada tali yang sama. Kaum Nadliyin. Sehingga 1 keluarga kemungkinan beda pilihan, satu organisasi kemungkinan pilihannya pecah. Ini kelemahannya.

Maka jaringan diluar itu harus dibangun. Tidak lagi pendekatan ideologis semata, tapi kebersamaan dalam visi, harapan dan gol yang akan dilahirkan.

Maka kalau ada bentukan tim baru, tetapi jaringan yang masih dekat dengan nadliyin, seperti kaum mudanya, anak anak kyai, semua masih tidak punya nilai tambah signifikan.

Kedua, kekuatan partai meski disebut tidak banyak pengaruh karena diutamakan figur, tidaklah selalu benar. Nanti akan kita lihat bagaimana mesin PDI-P, PKB, Golkar, Demokrat dll apakah aktif atau pasif ? Kayaknya faktor Ketua Umum yang turun lapangan atau tidak, menjadi sangat menentukan.

Belajar dari DKI figur menjadi kekuatan. Ada massa “tanpa partai” ternyata berperan menentukan. Jumlah mereka bisa 30 % hingga 40 %. Masa partai tetap punya peran, tapi jangan lupakan dukunga networking diluar itu.

Ada yang menarik dalam posisi jaringan Muslimat milik Khofifah. Bisa jadi akan berbenturan kepentingan dengan tokoh tokoh Muslimat di Kabupaten/Kota di Jawa Timur, yang dalam posisi sebagai anggota DPRD dari PKB. Sementara dalam posisi Gus Ipul, PDI-P ada yang “bocor” suaranya karena suara nasionalis merasa tidak terwakili.

Ketiga, jaringan itu ibarat jaring atau jala yang akan dilemparkan untuk mencari ikan (pemilih). Jala bisa methel, memet atau putus, karena banyak hal.

Misalnya, terlalu lama dipakai tanpa dirawat, terlalu sering ditarik kekanan dan kekiri, ketumpahan cuka atau zat asam, maka lama lama akan putus. Sehingga saat menjaring akan lobang dan lepaslah sang ikan.

Pertanyaannya, betulkah jaringan Gus Ipul dan Khofifah masih kuat dan utuh ? Kalau terlalu sering dipakai tanpa dirawat (diopeni), terlalu sering ditarik ke kubu Khofifah besok ke Kubu Gus Ipul, bisa bisa akan putus dan berpindah ke posisi netral.

Dan yang paling bahaya, jaringan dan jaring itu akan memet, methel, berantakan kalau “disiram cuka/zat asam” yang bernama uang. Dan uang besar yang bisa menghancurkan apapun.

Pertanyaannya, akankah ada pemodal besar yang melakukan itu ? Kekuatan finansial itu berada dibelakang Khofifah, Gus Ipul atau calon alternatif lain?

Kita tunggu, kita cermati.

Jember, 19 November 2018