Membaca Jakarta, Membaca Jawa Timur

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim 2018

Surabayaonline.co —– Ini era melayani bukan dilayani. Ini era memudahkan bukan menyulitkan, ini era mencari solusi bukan melahirkan masalah. Ini era silaturahmi, bukan era permusuhan.

Itulah modal utama Pemimpin Jatim. Itulah yang ditunggu, sosok yang melayani, sosok yang memudahkan, kepemimpinan kolektif yang melahirkan solusi.

Belajar 10 tahun di era Pakde Karwo – Syaifullah Yusuf, rakyat Jawa Timur merasa nyaman dan mendapatkan banyak kemudahan karena dilayani.

Ragam Perda, Pergub dan turunannya, kebanyakan berawal dari “buttum up”, memang kebutuhan masyarakat, baru dilegitimasi dengan peraturan. Bukan sebaliknya, “top down”, kehendak Gubernur, kemudian rakyat dibebani program yang dibuat.

Meski dalam masalah pendidikan, karena perubahan kewengan pengelolaan SMA/SMK dari Kabupaten/Kota ke Propinsi, masih meninggalkan PR yang belum terselesaikan. Kelihatan Pemprov masih “gagap” menjalankannya.

Tapi realitas sosial menunjukkan, Kepemimpinan Karsa (Pakde Karwo dan Syaifullah Yusuf) telah berhasil menjadikan Jawa Timur propinsi “kelas atas”. Masyarakat berdaya, ekonomi bergerak dinamis.

Banyak orang kurang obyektif, melihat keberhasilan ini semata karena karya Pak De Karwo. Wagup yang sering cengengesan, ndagel dianggap pelengkap saja.

Mereka lupa, ada pambagian tugas strategis keduanya. Pakde Karwo menangani gerak ekonomi dan birokrasi Jatim, Gus Ipul menangani Kesra dan Komunikasi politik akar rumput.

Maka, hampir 90 persen tugas Kesra, Gus Ipul yang “turun tangan”. Komunikasi bagus dengan ribuan kyai dan pesantren, kalangan gereja, dan seterusnya, adalah langkah Gus Ipul menjadi representasi Pemprov Jatim.

Ibarat rumah tangga, yang urus dapur dan kebutuhan rumah adalah pakde karwo, tapi urusan dengan tetangga, dengan saudara, bahkan dengan “nazab” keluarga warga Jatim, Gus Ipul ambil peran.

Urusan kehidupan beragama, kerukunan beragama, juga Gus Ipul ambil posisi. Dan jangan dianggap itu masalah kecil. Tanpa modal silaturahmi, mendatangi sesepuh Jatim tiada henti, jangan harap Jatim bisa adem ayem, damai dalam 10 tahun terakhir ini.

Apalagi kepemimpinan Duet Pakde Karwo Gus Ipul terbukti mampu membangun stabilitas ekonomi, sosial dan politik yang membanggakan. Riak SARA akan dengan cepat diredam, konflik horisontal dan vertikal dengan mudah diurai karena duet pemimpin yang elegan, tanpa banyak kata, tapi kerja.

Coba bandingkan dengan kinerja Gubernur DKI Ahok-Djarot. Boleh jadi, ia mampu mendobrak kemapanan birokrasi yang stagnan. Monoton dan cenderung KKN. Mampu melahirkan program program bagus, tapi kesinambungannya terhenti ditengah jalan.

Dua pemimpin ini kurang bisa menjaga suasana kondisif. Kalau Jakarta tiap hari panas karena kata kata Ahok yang menyakitkan hati banyak pihak, Jatim adem ayem atas kombinasi Pakde Karwo yang birokrat tulen dan Gus Ipul sosok perekat keberagaman.

Jakarta heboh, Pilkada panas, karena lima tahun Ahok tidak dekat dengan kalangan agamawan. Djarot juga tidak lakukan fungsi itu sebagaimana Gus Ipul lakukan di Jatim. Bertemu Ulama, keliling pesantren di Jakarta yang cukup banyak, silaturahmi dengan FKUB jarang dilakukan Djarot.

Realitas inilah yang membedakan DKI dan Jawa Timur. Kalau ada pihak pihak yang mencoba memantik isue agama di Jawa Timur, sulit berhasil, karena masyarakat Jawa Timur sudah diedukasi oleh pemimpinnya selama 10 tahun terakhir.

Sikap rakyat Jawa Timur yang terbuka, gentle, dan apa adanya hendaknya diikuti oleh para politisi. Ayo bermain dengan cantik, adu program, perbanyak “keringat” yang menetes dalam bentuk karya.

Kombinasi dua typikal pemimpin dalam berbagi tugas inilah yang menjadikan modal membangun tanpa kegaduhan.

Palu, 17 November 2017

Penulis Master Trainer MEP dan Aktivis sosial.

One thought on “Membaca Jakarta, Membaca Jawa Timur

  • 18/11/2017 at 09:04
    Permalink

    iki adike cak nun, ya. Selamat anda membaca Jawa Timur dengan benar. Asal kekuatan lain tidak ikut campur, insyallah jadi. Yang susah justru dari “dalam” partai utama pengusung Gus Ipul, kelihatannya.

Comments are closed.