Ratusan sandera di Mimika, Papua, Sudah Dievakuasi dari Dua Kampung yang Diisolasi

SURABAYAONLINE.CO-Lebih dari 340 warga, Jumat (17/11) sudah ke luar dari Desa Kimberly dan Utikini di Kabupaten Mimika, Papua, yang selama sepakan ini dikuasai oleh kelompok bersenjata.

“Tadi siang sektiar jam 11 waktu setempat, sudah berhasil dievakuasi, kurang lebih jumlahnya 344 orang. Terdiri dari perempuan, anak-anak. dan beberapa laki-laki,” jelas juru bicara Polda Papua, AKBP Suryadi Diaz, kepada wartawan BBC Liston P Siregar.

Sebagian besar yang sudah dievakuasi setelah berunding dengan kelompok bersenjata itu adalah kaum pendatang dan hanya satu dua orang saja yang merupakan warga asli kampung tersebut.

“Alasannya kan kalau mereka (kelompok bersenjata) melepas seluruhnya, mereka jadi gampang dimonitor atau dicari oleh petugas karena kan tujuannya mereka itu berlindung di balik warga yang masih ada di sana.”

Sebelum evakuasi Jumat (17/11) ini, beberapa warga yang sakit juga sudah dizinkan untuk meninggalkan kedua kampung, yang terletak di sekitar kawasan operasi raksasa tambang Freeport.

Bagaimanapun seorang tokoh masyarakat di kampung Banti, Jonathan Kibak, membantah kalau mereka disandera, seperti disampaikannya kepada Fairfax Media, Australia.

“Saya ingin menegaskan bahwa kami tidak disandera. Tidak ada di kampung ini yang dilarang melakukan kegiatan sehari-hari,” tegasnya yang dilansir koran Australia, The Sydney Morning Herald.

Sementara perundingan untuk membebaskan warga lainnya masih terus berlangsung.

Dilaporkan sekitar 1.300 orang dari dua kampung tersebut dilarang ke luar dari kedua kampung itu oleh satu kelompok bersenjata sejak Kamis (09/11) lalu.

AKBP Suryadi menambahkan bahwa aparat keamanan pada dasarnya sudah siap untuk mengambil tindakan tegas untuk membebaskan kedua kampung yang diisolir namun masih tetap mengedepankan upaya perundingan.

“Sudah disiapkan karena banyak pasukan satgas ini sudah berada di pos masing-masing dan tinggal lihat nanti hasil negosiasi atau permintaan kita untuk membebaskan masyarakat yang ada di sana.”

Namun hingga saat ini masih belum ditetapkan batas waktu untuk masa perundingan sebelum aparat polisi dan TNI mengambil tindakan tegas.

Kepolisian Indonesia mengatakan pihak yang mengisolasi Desa Kimberly dan Utikini adalah ‘kelompok kriminal bersenjata’ namun seorang pegiat Papua berpendapat bahwa kelompok itu memperjuangkan aspirasi politiknya.

“Mereka melakukannya karena ideologi, karena mereka mau berdiri sendiri. Bukan karena minta kesejahteraan atau minta dialog,” kata Kepala Komisariat Diplomasi Pusat KNPB, Warpo Wetipo, kepada BBC Indonesia, pekan lalu.

Aksi pengisolasian warga dua kampung di Mimika ini terjadi setelah tiga pekan lalu seorang anggota Brimob tewas ditembak oleh kelompok bersenjata di Timika, Papua. Dia tewas saat terlibat pengejaran kelompok tersebut.(bbc)