Kemana Posisi Masfuk dan Kang Yoto ?

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim 2018

SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – MUHAMMADIYAH secara kelembagaan sudah menyatakan netral dalam Pilkada Jatim 2018. Bahkan hal ini disampaikan langsung oleh
Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohari.

“Muhammadiyah bersikap netral dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) 2018. Kami menyerahkan sepenuhnya pilihan politik pada umat.” Tegasnya dalam pertemuan PWM Jatim dan PDM Se Jatim pekan lalu.

Pernyataan normatif itu sudah bukan berita baru. Apalagi Muhammadiyah adalah perserikatan yang mandiri, kuat dan transparan. Jadi sikap itu tanpa diucapkanpun sudah seharusnya seperti itu.

Apalagi fakta menunjukkan Muhammadiyah Jawa Timur, memiliki aset perserikatan yang cukup signifikan. Ini adalah posisi sosial dan politik yang cukup kuat.

“Total aset Muhammadiyah di Jawa Timur ditaksir mencapai Rp 150 triliun. Aset sebesar itu tersebar menjadi amal usaha yang dikelola di semua tingkatan. Aset ini harus dikembangkan untuk saling menguatkan Ranting dan Cabang Muhammadiyah,” tegas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Dr HM Saad Ibrahim.

Kalau membaca jumlah rumah sakit, pom bensin, sekolah, Perguruan Tinggi dan amal usaha lainnya, bisa menunjukkan bahwa ormas ini punya kekuatan besar.

Bargaining posititionnya kuat. “Daya jual” nya tinggi, marketeble. Bahkan kalau bicara Pemprov Jawa Timur, PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) adalah patner sejajar yang tak bisa diremehkan, apalagi diabaikan.

Cuma persoalannya, kenapa dalam Pilkada Jatim 2018 tidak begitu aktif misalnya dibanding Nadhaltul Ulama ? Atau minimal kader kader Muhammadiyah tampil mewarnai perhelatan lima tahunan ini ?

Jawabnya kongkrit. Muhammadiyah tidak ikut berpolitik. Tapi kader kader Muhammadiyah yang berpartai di PAN, seperi ketua DPD PAN Jatim H.Masyfuk dan Kang Yoto, Bupati Bojonegoro, sempat ikut muncul jadi perbicangan.

Ide awal Cagub- Cawagub, pasangan tokoh NU dan Muhammadiyah sebenarnya sudah diwacanakan, bahkan silaturahmi antar tokoh-tokoh itu sudah terjalin lama. Maka kemudian muncul dua nama tersebut. Tapi dibabak terakhir tampaknya kedua nama itu tiba-tiba hilang.

KopiMas (Khofifah-Masfuk) sempat muncul dalam beberapa bulan. Bahkan tampak sebuah harapan baru. Tetapi karena posisi politik, persaingan ketat, tiba tiba hilang dari perbincangan.

Kalau bicara Jatim, dua tokoh dan kader Muhammadiyah ini moncer. Masfuk terbukti sukses menyulap dengan tangan dinginnya menjadi Lamongan menjadi kota gagah, indah dan bermartabat. Kota yang dulu dikenal kota miskin, kini menjadi kota indah dengan WBL, pelabuhan dan jalan jalan yang mulus.

Kang Yoto, 10 tahun menjadi Bupati Bojonegoro yang penuh prestasi. Tokoh Matoh, tokoh elegan dan mampu melahirkan teori teori leadership baru soal kerakyatan, keterbukaan dan menjunjung tinggi partisipasi masyarakat.

Tapi karena “kenes” polling, balutan imajinasi generasi milenial yang dilegitimasi survey, dua sosok hebat ini kalah dan tenggelam dengan dua Bupati muda yang belum tuntas menyelesaikan tugasnya. Itulah Politik, itulah Indonesia, itulah substansi kalah dengan elementer, itulah image menumbangkan hakekat.

Bagi Muhammadiyah memang tidak ambil pusing. Karena jabatan Gubernur dan Wagub Jatim bukan segala-galanya. Tanpa jabatan sudah banyak berbuat. Tanpa posisi politik, ratusan rumah sakit tetap jalan, kampus dan sekolah tetap berdaya, geliat warga ekonomi tetap bergerak dinamis.

Dalam bahasa umum. Muhammadiyah tidak mencari, tetapi seharusnya dicari. Tidak meminta seharusnya diminta. Tidak perlu melibatkan diri, tetapi seharusnya dilibatkan.

Balikpapan, 16 November 2017

Penulis adalah Master Trainner MEP

2 thoughts on “Kemana Posisi Masfuk dan Kang Yoto ?

  • 18/11/2017 at 21:20
    Permalink

    Btl pak

    • 18/11/2017 at 21:21
      Permalink

      Setuju pak…

Comments are closed.