Ketika Memuji dan Caci Maki Menjadi Andalan

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim 2018

SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – SELASA malam, saya bertemu dua orang wartawan senior di Surabaya. Ajak makan dan langsung bertanya banyak hal.

“Kamu kan sekarang aktivis di dunia pendidikan, kenapa tiba tiba menulis politik. Pilkada Jatim lagi. Ngak eman eman tha namamu sebagai pendidik, ” tanyanya dengan sedikit ngotot.

“Baca dimana tulisan saya mas. Wong itu media online masih kecil, saya kira tidak ada yang baca, ” jawab saya sekenanya.

“Saya baca di group WA, malah tulisanmu dipakai bahasan di WAG. Sekarang tidak begitu penting media apa, asal link-nya bisa dicopy, maka dishare sudah banyak yang membaca.”

Belum sempat saya jawab, guru dan senior disebelahnya yang usianya menjelang 70 tahun, ikut “mengadili” saya.

“Saya dulu paham politik dikit dikit. Tapi gubernur Jatim waktu itu pak Basofi. Bahkan saya kenal Gubernur Soelarso. Tapi dulu politik itu asyik, tidak seperti sekarang. Sekarang politik saling menjatuhkan lawan, saling memuji sekaligus saling caci maki. Itu menjadi andalan politik praktis sekarang,” paparnya.

“Terus mas ?” Sela saya sambil ndomblong.

“Saya takut kamu kena getahnya politik itu. Mbok sudah kembali menulis pendidikan saja, ” jawab senior.

“Saya kan tidak menulis politik mas. Saya ajak refleksi saja. Saya nulis juga sederhana. Logika rakyat kecil. Jadi ini pendidikan juga tapi pendidikan politik, ” jawab saya.

Mumpung belum disela, saya lanjutkan bicara.

” Sebenarnya bagaimana Gus Ipul menurut sampeyan ? Bagaimana juga Khofifah ?”, ganti saya bertanya.

“Saya tidak kenal Gus Ipul. Mungkin dia kenal saya samar samar. Tetapi saya perhatikan 10 tahun ini, dia anak baik. Pejabat yang baik, dan setia sama Gubernurnya.”

“Maksudnya mas ?”

” Rata rata Gubernur, Bupati, Walikota akur sama wakilnya maksimal 3 tahun. Ditahun keempat siap siap mencalonkan diri sendiri, melawan gubernurnya atau bupatinya, dan rata rata kalah. Nah, Gus Ipul sabar 10 tahun mengawal pak Karwo.”

“Saat periode kedua, saya dengar dia banyak didorong tokoh-tokoh NU agar maju sendiri, tetapi dia kekeh nemani pak Karwo,” celetuk kawan senior satunya.

“Terus apa komen sampeyan dengan kondisi sekarang maju sendiri dengan melawan Khofifah saudaranya sendiri sesama NU,” tanya saya.

“Ya sudah saatnya Gus Ipul maju. Kesabaran dia 10 tahun mendampingi pak Karwo, wajib kita apresiasi. Dia sudah menguasai banyak hal sekolah ke Pak Karwo.”

“Tapi Khofifah juga wajar maju lagi. Dia juga berhak memimpin Jawa Timur. Wong dia juga sudah ngalah 10 tahun,” reaksi senior satunya.

“Khofifah anak baik juga. Cuma dia sudah 2 kali gagal jadi cagub. Ada suasana kebatinan yang saya tangkap dia sakit hati, ada rasa ngebet menang karena gagal dua kali. Ini yang membuat kurang baik.”

“Enggak jugalah. Dia punya hak sama dengan Gus Ipul. Dan saya memilih Khofifah karena dia wanita dan cerdas,” respon senior satunya.

“Pemimpin itu tidak cukup cerdas. Dia juga harus humbel, punya jaringan silaturahmi yang kuat, punya pengalaman memimpin daerah, mampu merekatkan semua unsur. Dan itu Gus Ipul jagonya. Soal kreativitas kepemimpinan Azwar Anas sebagai cawagub tak diragukan.”

“Itu kan pendapat sampeyan. Saya punya pandangan lain. Khofifah jago saya karena dia anak cerdas. Saya kira siap diadu,” respon senior satunya.

Dan keduanya akhirnya adu argumentasi panjang, saya jadi bingung. Dan melihat saja sambil nyruput kopi. Sampai tiba tiba sang senior mengagetkan saya.

“Kamu tolong ceritakan itu Sayidina Ali yang tidak jadi membunuh musuhnya karena nafsu. Biar paham ini kawan,” tegas Senior mengagetkan saya.

“Oh iya. Singkat saja ya mas. Suatu hari, Sayidina Ali mau membunuh seorang musuh. Pedang sudah menghunus, tiba-tiba sang musuh meludahi wajah Sayidina Ali. Siapa tidak sakit hatinya kalau diludahi di wajahnya.”

Sambil bernafas, saya lanjutkan.

Tiba-tiba Sayidina Ali kaget dan menarik pedagangnya. Sakit hatinya mengganggu niat baiknya. “Aku tidak jadi membunuhmu. Kalau tadi aku niat membunuhmu sebagai musuh, karena Allah. Maka sekarang hatiku sakit, takut niatku karena marah dan dendam padamu. Bukan lagi tulus berjuang dijalan Allah,” tegas Sayyidina Ali

“Begitu kisahnya mas, ” saya mengakhiri.

“Nah itu yang saya maksud. Kalau Khofifah terutama pendukungnya niat menang karena sudah kalah dua kali. Itu niatnya balas dendam, bukan niat membangun Jawa Timur. Bukan niat karena Allah,” respon senior.

“Jangan terlalu jauh mas. Sampeyan kok hubung hubungkan politik, dengan perjuangan zaman Nabi. Ini Indonesia mas, ini Jawa Timur. Rakyat bangga dengan pemimpinnya yang berani,” balas senior satunya dengan sedikit ngotot.

“Ya gak bisa. Kita orang Islam..” respon senior

“Jangan bawa2 agama dalam pilkada mas,” bantah senior satunya.

Debat berkepanjangan. Saya diam sejenak. Baru saya menengahi.

“Sudah-sudah mas. Terus saya ini sebagai yunior diizinkan nulis terus tidak?”

“Boleh boleh…”
“Lanjut nulis, tapi jangan lahirkan permusuhan. lakukan edukasi, bukan pembelaan yang membabi buta.”

Jawab kedua senior yang membuat saya lega. Dan mulailah saya nulis lagi setelah sehari libur karena protes para wartawan senior, guru dan sahabat abadi saya selamanya.

Surabaya, 15 November 2017

Penulis adalah aktivis pendidikan, Direktur MEP Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *