Terkuak, Misteri Air Berumur 2.000 Tahun di ‘Zona Bayangan’ Pasifik

SURABAYAONLINE.CO- Selama ini tak sedikit yang menganggap bahwa air laut terus bersirkulasi ke seluruh dunia. Kenyataannya, ada bagian-bagian laut yang melakukan siklus di suatu tempat tertentu selama ribuan tahun.

Air laut yang ada di lokasi seperti itu melakukan siklus kecil di tempat yang sama sehingga airnya pun sama dengan yang ada di sana selama siklus tersebut.

Tempat seperti itu dikenal sebagai “Zona Bayangan.” Letaknya sekitar 2 kilometer di bawah permukaan laut Samudra Pasifik dan air yang ‘terjebak’ di sana berusia antara 1000 hingga 2000 tahun.

Dikutip dari news.com.au pada Senin (13/11/2017), air seusia itu bertarikh hingga ke masa ketika kaum Goth, suku purba Jermanik, menduduki bagian barat Kekaisaran Romawi dan kebangkitan Eropa Masa Pertengahan.

Dalam waktu cukup lama, alasan keberadaan zona bayangan seluas 6.000 x 2.000 kilometer persegi di kedalaman 1 hingga 2,5 kilometer di utara Samudra Pasifik itu masih menjadi misteri.

Sebelumnya, penanggalan karbon memang bisa mengungkapkan usia dan lokasinya, tapi hingga sekarang, para ilmuwan masih harus bekerja keras mengerti mengapa ada kawasan yang terkurung di sana.

Baru-baru ini, sebuah tim internasional di bawah pimpinan University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia, mengutarakan bahwa zona itu menghalangi sirkulasi air menuju permukaan karena bentuk dasar laut di kawasan.

Dr. Casimir de Lavergne dari School of Mathematics and Statistics dari UNSW adalah pimpinan penulisan makalah penelitian tentang zona yang dimaksud. Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature edisi terkini.

Dr. de Lavergne menjelaskan, “Air terjebak itu berpusar balik sebagaimana bentukannya oleh distribusi dasar laut.”

Zona itu hampir tidak memiliki gerakan vertikal karena faktor-faktor yang mencegahnya naik.

Zona itu berada di antara arus naik yang disebabkan oleh topografi kasar dan sumber panas geotermal di bawah 2,5 kilometer serta arus lebih dangkal yang diterpa angin di dekat permukaan.

“Ketika zona bayangan terkucil ini menjebak air laut berusia beberapa milenia, ia juga menjebak zat hara (nutrient) dan karbon yang memiliki dampak langsung pada kemampuan samudra untuk mengubah iklim selama skala waktu milenial,” demikian menurut salah satu peneliti Dr. Fabien Roquet dari Stockholm University.

Nyaris Tidak ada Kehidupan

Oksigenasi yang rendah di zona itu menyebabkan terbatasnya kehidupan laut di sana, tapi tidak sampai kosong sama sekali. Menurut Dr. de Lavergne, “Itu bukanlah kawasan dengan kehidupan paling subur, tapi bukan berarti menjadi zona mati.”

Samudra Atlantik dan Hindia juga memiliki zona bayangan masing-masing yang asal-usulnya lebih muda, sedangkan perairan Antartika secara relatif memiliki kandungan oksigen yang tinggi.

Para peneliti UNSW berharap, karya mereka bisa membantu para ilmuwan lain untuk mengerti kemampuan samudra menyerap panas yang terjebak akibat peningkatan gas-gas rumah kaca.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *