Pemimpin Linier Berlindung “Dijubah” Birokrasi

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim 2018

MESKI zaman sudah bergerak cepat, masih banyak kita temukan pemimpin lokal di negeri ini, baik Bupati, Walikota hingga Gubernur, menggunakan cara berpikir, cara bekerja dan bahkan cara berpidato yang linier.

Pengertian yang saya maksud linier adalah, ia terbelenggu oleh patron birokrasi, ia hanya menjadi “pimpinan birokrat” yang harus menjalankan apa yang sudah ada tanpa keberanian menunjukkan kreativitas, karena ia terbelenggu cara kerja birokratis atau “berlindung” dijubah birokrasi.

Bahkan, pemimpin model ini, cara berpikirnya lurus, urut, sistematis dan prosedural. Tolong dicatat sistematis dan prosedural adalah teori benar, namun banyak pejabat “mengatasnamakan” dua kata tersebut untuk menjadikan ia seorang raja kecil.

Bahkan, maaf saya masih sering menemukan Bupati dan Walikota karena cara linier ini dipakai, menjadikan dia sosok yang harus dihormati dan disegani. Padahal kehormatan yang diminta adalah serendah rendahnya kehormatan. Karena pemimpin sejati yang berjuang untuk rakyat dengan ikhlas, akan dihormati tanpa meminta.

Pemimpin linier dan birokratis, setiap keluar rumah Dinas, keluar kantor, disamping patwal, ada 5 sampai 6 mobil pejabat bawahannya ikut. Sirine meraung raung dikota dan desa, pertanda dia hadir. Dia eksis.

Eksistensi pemimpin linier ditunjukkan dengan tampilan, kehadiran dirinya. Jangan kaget diseluruh pojok kota dan desa, ada fotonya dalam banyak kegiatan pemerintahan. Semua kegiatan ia publikasikan habis-habisan tanpa ada paramater keberhasilan.

Sebagian besar pemimpin linier takut dikritik, takut akan resiko, takut mengambil kebijakan yang berani keluar dari kebiasaan birokrasi, karena dianggap mengurangi kewibawaannya.

Karena cara berpikir dan bergerak linier, jangan kaget kalau pidatonya tidak menarik. Monoton, terstruktur, gaya pejabat orde baru yang hanya mengungkapkan hal hal normatif.

Ia bicara tidak menyuarakan kehendak rakyat, menggelorakan suara hati rakyat yang ia pimpin, tetapi lebih mengedepankan pendapat dirinya sebagai pejabat. Maka jangan kaget pidatonya tanpa getaran, tanpa pesan.

Coba bandingkan dengan pemimpin lateral. Ia selalu berani mengambil keputusan. Ia melahirkan program yang tidak umum (tidak populer), bahkan ia sering “melawan” aturan protokoler karena dianggap menghambat langkahnya.

Tolong dicatat, pemimpin lateral bukan berarti melawan hukum, melawan aturan. Ia tetap taat aturan, cuma cara, ekspresinya yang berbeda dengan pemimpin linier. Kepemimpinannya segar, menyenangkan dan memberi harapan.

Kita ingat teori “Berpikir Lateral” Edward de Bono. Psikolog satu ini menjelaskan, berpikir lateral adalah cara berpikir yang berusaha mencari solusi untuk masalah terselesaikan melalui metode yang tidak umum, atau sebuah cara yang biasanya akan diabaikan oleh pemikiran logis.

Dari teori de Bono ini, dapat diterjemahkan bahwa peminpin lateral hadir membawa solusi. Melahirkan jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi rakyatnya. Bahwa ia kemudian membutuhkan aturan, Perda, Pergub, Perbup dan sederet aturan lainnya, hanyalah alat untuk menjalankan solusi tersebut.

Sementara pemimpin linier lebih mengedepankan aturan, menjalankan aturan yang sudah ada, walaupun itu menghalangi jalan keluar bagi sebuah masalah rakyat. Gaya birokrat yang berlindung dibawah aturan, sangat merugikan rakyat.

Lantas siapakah Calon pemimpin Jatim, baik cagub atau cawagub, cabub dan cawabup yang berpikir linier dan siapa yang lateral, masih ada waktu untuk menyaksikan sebelum akhirnya menentukan pilihan.

Surabaya, 13 November 2017

Penulis adalah aktivis pendidikan, Direktur MEP Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *