Anak Keluarga Pasukan Kuning Surabaya Dapat Beasiswa

SURABAYAONLINE.CO- Momentum Pesta Cak Koen 2017 juga mengundang keluarga para pasukan kebersihan. Istri dan anak-anak petugas kebersihan dijamu di halaman Rumah Dinas Walikota di Jl Sedap Malam, Minggu (12/11/2017).

Anak-anak para pasukan kuning ini diberi beasiswa oleh sponsor dan pengusaha sukses asal Surabaya. Salah satunya turut menyumbang adalah Datok Sri Prof Dr Taher pengusaha sukses terkaya nomer lima di Indonesia.

Tri Rismaharini Walikota Surabaya memperkenalkan Prof Taher di hadapan keluarga pasukan kuning dalam Pesta Cak Koen 2017. Menurut Risma, kisah kesuksesan Prof Taher harus menjadi pelajaran agar keluarga pasukan kuning termotivasi untuk menyekolahkan anaknya.

“Beasiswa yang diberikan ini bukan dari Pemerintah Kota, ini dari bapak-bapak di depan ini, termasuk bapak Prof Taher. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa menyekolahkan anak. Kalau mau nasibnya berubah gunakan uang itu untuk sekolah,” ujar Risma kepada ribuan keluarga pasukan kuning.

Menurut Risma, beberapa anak yang menerima beasiswa sudah terbukti bisa mengangkat derajat keluarga. Jadi, gunakan uang beasiswa dengan baik untuk sekolah. Jangan gunakan uang untuk yang lain.

Datok Sri Prof Dr Taher juga sempat memberi sambutan, dia menceritakan bagaimana ayah dan ibunya membesarkan hidupnya berangkat dari keterbatasan ekonomi. Tapi, dengan tekat orang tua yang kuat, Taher bisa jadi pengusaha sukses seperti sekarang.

“Ayah saya dulu tukang mengecat becak. Ayah punya usaha menyewakan becak. Biaya setoran becak itu yang membiayai saya sekolah,” katanya.

Selain menyewakan becak, orang tua Taher juga bekerja sambilan jual beli emas di Kapasan.

“Bisa tidak merubah nasib anak kita, pasti bisa. Bapak saya dulu juga kerja mekelaran di Kawasan, beliau beli emas dari orang terus dijual lagi,” katanya.

Menurut Taher, semua orang bisa dan memiliki kesempatan yang sama untuk merubah nasib. Hanya dengan kerja keras orang tua dan doanyalah orang bisa sukses.

“Jangan anaknya di suruh ngemis atau mencari uang. Kalian harus rajin berdoa dan bertekat, suatu hari anak saya harus jadi orang. Hanya satu jalan disekolahkan dan dirawat dengan baik,” kata Taher.

Taher bercerita, kalau dia juga merawat lima anak asuh korban pengungsi di Syiria. Menurut Taher, tidak ada alasan perbedaan agama untuk membantu orang dan mengangkat derajat mereka.

“Saya mengambil lima anak di Syiria. Gak ada perbedaan agama untuk saling membantu. Saya beragama Kristen mereka beragama Islam. Saya ingin suatu hari anak-anak tersebut jadi orang besar. Jangan dibiarkan sengsara,” katanya.(suarasurabaya.net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *