Memimpin itu “Kendaraannya” Tidak Cukup Popularitas

Oleh : Yusron Aminulloh

Catatan Pilkada Jatim 2018

SURABAYAONLINE.CO, Surabaya – SEBUAH Survey dirilis. Disebutkan bahwa kalangan pemilih pemula, “bosan” dengan dua calon yang dianggap “jago” lama. Yakni Wagub Drs.H.Syaifullah Yusuf (Wagub Jatim) dan Hj Khofifah Indar Parawansa (Mensos).

Pemilih pemula yang disebut generasi milineal memang potensi. Jumlah mereka disebutkan 40 persen dari 31 juta pemilih, atau 12 juta pemilih Jatim adalah milineal.

“Berdasarkan survai kami dari Surabaya Survey Center (SSC) sebanyak 74 persen dari total pemilih adalah swing voters. Mereka bosan dengan wajah wajah usang, ” tegas Muchtar W.Oetomo. “Mereka butuh wajah wajah baru, ” tambahnya.

Kacamata survey memang subyektif. Malah kadang ada kepentingan dibalik setiap survey. Ini bisa dimaklumi, lembaga survey sekarang sudah menjadi industri. Tidak lagi karya ilmiah seorang intelektual yang bebas atas pengaruh.

Namun apapun jangan remehkan. Inilah fakta yang perlu dicermati Cagub dan Cawagub. Betapa mereka para pemilih milinial adalah pemilih potensial yang wajib didengar suaranya. Mereka punya zaman sendiri, mereka memiliki cara berpikir sendiri yang kadang tidak mudah dipahami.

Coba perhatikan diskursus yang muncul. Ada dikotomi yang tidak terukur soal calon tua yang membosankan dengan calon muda yang segar. Pendekatan yang dipakai bukan soal leadership, bukan soal visi dan hasil karya, tetapi popularitas.

Maka, generasi milinial — diikuti para pakar yang memberikan legitimasi — kemudian “merekomendasi” beberapa nama anak muda. Seperti Emil Dardak, Bupati Trenggalek dan Anang Hermansyah, anggota DPR RI dari PAN dan lain lain. Semoga Dewi Persik asal Jember tidak ikut disebut sebut.

Para politisi ikut tergoda hasil survey. Mereka kemudian “joget” sesuai bunyi ” kendang” yang dibunyikan lembaga survey. Obyektifas sirna, cara berpikir rasional dihilangkan, sama dengan realitas politik nasional yang mengedepankan popularitas dibanding kualitas.

Itulah ciri khas zaman ini. Terlalu cepat mengagumi orang dan memuji mujinya orang yang disukai, sekaligus terlalu dini menghakimi orang dan merendah rendahkan yang tidak disukai.

Padahal memimpin Jatim butuh tokoh kuat. Butuh simbol kewibawaan, butuh sosok yang mampu mengayomi masyarakat. Butuh “penjahit” yang mampu merajut ragam kebhinekaan Jawa Timur.

Lihatlah Jatim 20 Tahun terakhir. Propinsi ini damai dan adem, pembangunan lancar. Sahabat saya Gol A Gong, penulis dan tokoh dari Banten terheran heran melihat Jawa Timur.

“Didesa desa di Jawa Timur jalan mulus. Orang menyambut tamu dengan hangat tanpa curiga. ATM Bank swasta bisa masuk Kecamatan, rumah rumah didesa bangunannya megah. Saya sulit menemukan fakta ini di Banten. Ini karena Gubernurnya memimpin dengan benar,” tegas Gol A Gong.

Memimpin dengan benar, dengan kewibawaan, dengan bersahaja dan membangun komunikasi dengan ribuan Kiai, pendeta, biksu, intelektual, cendekiawan, bukanlah kerja popularitas.

Kendaraannya tidak cukup dengan nama tenar, popularitas, disukai gadis gadis karena ganteng, sering tampil di televisi karena istrinya artis atau artis. “Kendaraannya” adalah ketulusan, kewibawan dan kekuatan batin yang harus dibangun puluhan tahun.

Jawa Timur, propinsi rasional. Tidak harus sama dengan Indonesia.

Jawa Timur, pusat peradaban nusantara, energi utamanya roh, batin yang kuat.

Jawa Timur, membutuhkan pemimpin yang keringatnya sudah menetes, bukan akan akan dan akan

Jawa Timur harus menjadi Tauladan, melahirkan pemimpin karena leadership, karena kewibawaan, bukan karena popularitas.

Jombang, 12 November 2017

Penulis adalah aktivis pendidikan, Direktur MEP Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *