Penjual Daging Kumpulkan Uang Koin Selama 2 Tahun demi Membeli Kawasaki Ninja

SURABAYAONLINE.CO- Pasangan suami istri, Eko Margono (40) dan Ernawati (35), warga RT 11/RW 03, Desa Taman Arum, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, kini bisa bernapas lega.

Cita-cita Eko dan Erna membelikan anak sulungnya, Muhammad Pradita Candra Amarta, sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc, akhirnya kesampaian.

Untuk bisa membeli motor tersebut, pasangan suami istri yang berprofesi sebagai penjual daging giling itu mengumpulkan uang logam selama dua tahun. Uang receh itu disimpan di tempat khusus.

Pada tahun pertama, ia menyimpan uang koin itu di sebuah gentong air plastik merah ukuran 50 liter. Setelah gentong itu penuh, Eko dan istrinya menyediakan kaleng bekas cat 25 kilogram untuk mengumpulkan uang logam.

“Kami mengumpulkan uang logam itu kurang lebih dua tahunan. Kebetulan saya memiliki usaha penggilingan daging. Beberapa konsumen sering membayar dengan uang recehan logam,” ujar Ernawati yang dihubungi Kompas.com, Jumat (10/11/2017).

Erna mengatakan, ia mudah mendapatkan uang koin karena pelanggannya rata-rata penjual cilok yang berjualan di sekolah-sekolah. Dengan demikian, uang yang disetor kepadanya juga kebanyakan recehan logam.

FOTO:KOMPAS>COM

Tak sekadar menggiling daging, Erna bersama suaminya juga menyediakan bahan-bahan cilok bagi penjual yang ingin membelinya.

“Jadi penjual cilok itu tinggal datang ke kami langsung mengambil jadi. Mereka tinggal menyediakan kecap, saos dan sambalnya,” ungkap Erna.

Niat Eko dan Erna membahagiakan anaknya yang masih duduk di bangku kelas dua SMP itu bukan tanpa alasan. Selain ingin memberi motivasi anaknya, ia menginginkan anaknya dapat memakainya saat sudah duduk di bangku SMA.

“Saat ini anak saya masih mengenyam pendidikan SMP kelas dua di salah satu pesantren di Magetan. Waktu masuk SMP, dia sudah minta motor untuk dipakai saat sekolah SMa. Jadi sepeda motor warna hitam yang diingingkan saat ini sudah kami belikan. Dengan demikian kalau sudah di SMA dia tinggal memakai saja,” kata Erna.

Erna mengkhawatirkan bila tak segera membelikan sepeda motor saat ini uangnya akan habis terpakai untuk kebutuhan lain. Apalagi biaya pendidikan saat ini juga semakin bertambah mahal.

“Waktu masuk SMP biaya masuknya saja sudah sepuluh juta lebih. Kalau SMA pasti lebih mahal lagi,” jelas Erna.

Untuk mengumpulkan koin-koin itu, Erna dan Eko bekerja menggiling daging mulai pukul 02.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Selanjutnya, Eko melanjutkan kerja di bengkel sepeda motor.

Ditanya kenapa uang dikumpul dalam bentuk koin, Erna mengaku lebih mudah dan praktis. Selain itu, uang koin yang terkumpul pasti jarang diambil.

“Kalau uang kertas yang kumpulkan pasti tidak akan terkumpul dan habis untuk dibelanjakan bahan-bahan,” tandas Erna.

Berbeda dengan Erna, sang suami, Eko, mengaku mengumpulkan uang koin lantaran tidak memiliki tabungan.

Agar keinginan anaknya tercapai, keduanya memilih mengumpulkan uang logam hasil pembayaran penjual cilok ke dalam ember.

“Pak Heru yang punya diler kawasaki sampai heran saya tekun mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Saya jelaskan jualan cilok itu untungnya sedikit,” ujarnya.

Eko menuturkan dirinya pernah mendatangi salah satu bank untuk menukarkan uang tersebut, namun ditolak.

“Katanya mereka hanya bisa melayani penukaran uang koin maksimal Rp 500.000 dalam satu hari. Padahal uang logam saya jumlahnya sekitar Rp 42 juta. Kalau ditukar di bank dengan cara seperti itu akan membutuhkan waktu yang lama,” kata Eko.

Kendati ditolak bank untuk penukaran uang recehan dalam jumlah banyak, Eko dan Erna tidak putus asa. Keduanya nekat mendatangi diler Kawasaki di Kota Ponorogo.

“Sebelum datang ke diler, istri saya menghitung jumlah yang kami tabung dalam gentong air dan kaleng bekas cat. Hampir satu minggu lamanya dia menghitung jumlah uangnya,” jelas Eko.

Instagram kawasaki.life Pasangan Eko Margono dan Ernawati yang membeli sebuah motor Kawasaki Ninja 250 Fi dengan uang tunai Rp 42 juta yang seluruhnya uang logam.

Tak disangka, kata Eko, pihak diler menerima uang logam recehannya untuk membayar satu unit sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc.

“Saya omong kalau sebagian besar uangnya koin gimana. Pihak dealer tidak mempersoalkan. Nanti diajak hitung bersama-sama. Pemilik diler menyatakan tidak masalah karena uangnya sama lakunya,” ungkapnya.

Untuk membawa uang logam sebanyak Rp 42 juta, Eko memasukannya ke karung plastik ukuran 50 kilogram. Lantaran total berat uang logam yang dimasukkan melebihi kapasitas, karungnya langsung jebol saat uang diturunkan dari mobil.

Pegawai diler Kawasaki Ponorogo pun sempat kerepotan memindahkan uang recehan koin senilai Rp 42 juta.

Setelah uang koin itu diserahkan ke diler, jumlah kekurangannya sekitar Rp 20 juta karena harga Kawasaki Ninja 250 cc Rp 62 juta. Eko pun membayar kekurangannya secara tunai.

Eko tidak menyangka sebagai wiraswasta kecil bisa membelikan sepeda motor yang harganya mahal. Apalagi saat ini mereka tinggal di wilayah pedesaan.

“Waktu itu pikiran saya nggak sampai ke situ. Dari awal untuk membeli sepeda motor semahal itu kami orang desa kalau tidak kumpul sedikit demi sedikit mana bisa,” kata Eko.

Sempat ragu

Pemilik diler Kawasaki Madiun, Ponorogo dan Ngawi, Heru Airlangga menyatakan sempat ragu menerima tawaran Eko yang akan membeli sepeda motor Kawasaki Ninja 250 cc dengan uang logam. Namun ia tetap menerimanya lantaran baginya pelanggan itu raja.

“Pertama saya terima ragu-ragu. Lalu saya berpikir apapun itu customer itu raja. Makanya saya terima. Pasalnya sesuai undang-undang di Indonesia, uang pecahan logam juga sebagai alat bayar yang sah. Makanya, suka atau tidak suka harus saya terima,” kata Heru yang dihubungi Kompas.com, Jumat ( 10/11/2017) sore.

Setelah menerima uang itu, ia sempat kesulitan untuk menyetorkannya ke bank. Ia pun akhirnya menukarkan uang recehan tersebut kepada teman-temannya sesama pengusaha dan pemilik toko yang membutuhkan uang pengembalian.

Baginya bila ia menolak uang recehan untuk pembayaran pembelian sepeda motor maka dirinya akan terkesan arogan.

“Setelah saya terima lalu saya upload kemudian jadi viral,” tandas Heru.

Menurut Heru, ia sudah meminta Eko untuk membayar uang muka dahulu sebagai tanda jadi pemesanan. Namun Eko menolak dan bersikukuh ingin membeli dengan tunai setelah barangnya datang.

“Saya lalu spekulasi. Pesan barangnya dari Surabaya. Setelah barangnya datang lalu Pak Eko kita hubungi, lalu datang dan membayarnya,” jelas Heru.

Heru mengatakan uang logam yang dibawa Eko sudah dikemas dalam plastik dan disimpan di dalam karung. Saat diturunkan dari mobil, empat pegawainya tak kuat mengangkat uang koin sebanyak itu.

Untuk mengangkat uang koin itu, kata Heru, pihaknya terpaksa menggunakan troli. Setelah dihitung, uang recehan koin logam itu ditaruh di dalam bagasi mobil.

“Mobil yang angkut uang itu sampai memendek bagian belakangnya karena membawa beban yang berat. Kalau saya perkirakan beratnya di atas seratus kilogram lebih,” kata Heru.(kompas.com)