Ketika Kyai Nyunggi Berkat

Catatan Pilkada Jatim 2018

Oleh: Yusron Aminulloh

BANYAK kisah menarik, dari Syaikhona Kholil, Bangkalan.  Gurunya para kiai Indonesia ini, penuh karomah, ribuan keistimewaan.

Saat muda, beliau Kiai Kholil nyantri di Lasem, Jawa Tengah. Nah, saat sholat berjamaah, tiba-tiba Kholil muda tertawa kecil saat sholat. Ia memandang kiainya, sambil tertawa. Sampai menarik perhatian jamaah lain. Dan iapun batal berjamaah.

Usai sholat, Kyai yang jadi imam melihat Cholil muda. Memandanginya, dan kemudian bertanya.

“Anakku, kenapa kamu tertawa saat sholat,”

“Ya Kiai, saya….ah..”,sulit Cholil muda menjawab.

“Kamu melihat apa ? Kok tertawa sendiri. Cerita saja,”tegas Kiainya.

“Begini kyai, saya tidak bisa khusu’, tidak bisa kosentrasi pada Allah, karena saya melihat kiai jadi imam sambil “nyunggi” berkat (makanan dari kenduri).” Terang Cholil muda.

“Ya Allah nak, kamu benar. Saya agak terganggu kosentrasi waktu sholat tadi, kurang khusu’, karena tadi habis slametan,  berkatnya belum saya makan. Kamu betul, kamu santri niluwih. “tegas Kyainya.

Dialog Kyai Cholil saat muda ini, bukan hal sederhana. Meski masih muda, beliau ternyata bisa melihat apa yang tidak dilihat orang, Bisa merasakan apa yang tidak dirasakan orang, bisa membaca tanpa teks, bisa membaca tanpa kitab.

Membaca kisah kiai Kholil muda ini, saya kemudian membayangkan.

Andaikan,  para Kyai-kyai di Jawa Timur di Pilkada 2018, mampu menjadi seorang Kyai Cholil muda, tentu tidak akan ada dua atau tiga kubu.  Tidak akan ada sekelompok kyai mendukung Gus Ipul dan kelompok Kyai lain mendukung Khofifah, dan sangat mungkin kelompok kyai lain mendukung calon lain.

Akibat pilihan yang berbeda itu menjadikan ummat ikut bingung, sebenarnya kyai mana yang harus diikuti. Akibatnya, terjadilah perang kebenaran, perang kebaikan, dan santri dan ummat ikut terpancing mencari kesalahan, kelemahan masing-masing calon dan hanya mengunggulkan calonnya sendiri.

Andaikan, para kiai hari ini mampu membaca hati dan pikiran Calon Gubernur, akan mengetahui apa niat para Cagub dan Cawagub itu, pasti tidak sulit lagi memilih.

Andaikan para kiai hari-hari ini mampu membaca, siapa dibalik para cagub dan cawagub, adakah kekuatan besar, baik politik ataupun modal, dan seterusnya, pasti tidak sulit memilihkan calon yang tepat untuk rakyat dan ummatnya di Jawa Timur.

Andaikan para kiai, hari-hari ini mampu membaca, siapa Cagub-Cawagub yang niat tulusnya mensejahterakan rakyat, atau mau mensejahterakan dirinya dan golongannya, maka pilihan tidak perlu dua atau tiga. Cukup seorang calon yang dipilih dan direkomendasi kepada ummat untuk dipilih.

Andaikan para kiai, hari hari ini dipertunjukkan Allah bawa ada cagub-cawagub yang sedang “menyunggi berkat”  berupa makan sedap bagi rakyat atau masakan tidak sedap, tentu ummat tidak lagi bingung.

Sayang, kita belum menemukan kiai sekarang seperti kyai Cholil Bangkalan. Jadinya rakyat harus bingung.

Surabaya, 10 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *