Pernah Ditipu Sampai Bangkrut, Kini Sinthya Jadi Miliarder Muda

Ratusan anak muda berdesakan di salah satu booth dalam event JakCloth yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, pekan lalu. Mereka menyerbu rak-rak dan gantungan baju, lantaran tergiur ketika melihat tag ‘100k 3 pcs’.

Sejak tahun lalu, booth Mayoutfit memang selalu menjadi incaran para remaja yang berburu produk clothing line murah di JakCloth. Clothing line asal Bandung, Jawa Barat ini memang terkenal dengan produk fashion murah dengan kualitas baik.

Anda tidak akan pernah menyangka sosok di balik Mayoutfit adalah seorang gadis muda dengan passion bisnis yang luar biasa. Ia adalah Sinthya Audi Poetri.

Mahasiswi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini bahkan tidak pernah bermimpi memiliki toko online–yang kini sudah memiliki toko fisik– beromzet miliaran rupiah.

Berangkat dari tekadnya yang tak ingin bekerja dengan orang lain, gadis 23 tahun itu kemudian merintis usaha online shop bersama dua temannya, Intan dan Aldi. Namun, seperti mahasiswa kebanyakan, ia tak punya modal cukup untuk memulai usaha.

Maka Sinthya pun mencoba peruntungan dengan menggunakan sistem PO (pre order atau pesan lebih dulu). Kala itu ia memilih sepatu sebagai produk yang ia pasarkan.

“Saya foto sendiri sepatu-sepatu yang saya jual, saya pasang di Instagram. Ternyata banyak yang pesan,” ucap dara kelahiran tahun 1993 ini kepada Money.id beberapa waktu lalu.

Sinthya memilih bisnis sepatu lantaran lekat dengan passion-nya di bidang fashion. Demi memuaskan hobi belanjanya, ia pun memilih berbisnis dengan harapan mendapat keuntungan yang lumayan.

Namun, setelah dijalani rupanya Shintya ‘kecanduan’. Keuntungan dari usahanya tidak serta merta diambil begitu saja, melainkan terus ia putar untuk membesarkan bisnisnya.

“Uang modal saya dapat dari keuntungan pertama, lalu kita putar lagi untuk membeli barang, begitu seterusnya, sehingga saya bingung juga kalau ditanya soal modal awal,” tuturnya.

Cara tersebut Mayoutfit geluti sekitar satu tahun, sejak 2013. Lalu, di tahun berikutnya, setelah modal mencukupi, Sinthya berpikir untuk mengelola bisnisnya lebih serius. Salah satunya dengan memproduksi sendiri barang-barang yang dijual Mayoutfit.

Meski kala itu belum punya konveksi sendiri, Mayoutfit menyebar produksi ke sejumlah tukang jahit di Bandung.

“Saya juga ingin membantu ekonomi warga daerah sekitar, dengan membuka lapangan pekerjaan kepada para tukang jahit. Semua pakaian sampai sling bag yang kami jual itu dijahit oleh para perajin di Bandung,” ujar gadis manis berhijab ini.

Produk yang dijual Mayoutfit memang relatif murah dan pas di kantong pelajar. Sinthya cs menjual kaus dengan harga Rp25.000, celana dengan banderol sekitar Rp50.000, jaket seharga Rp80.000, dan sling bag dengan kisaran Rp35.000-50.000.

Meski memiliki harga yang sangat murah, Sinthya menolak usahanya disebut merusak harga pasar. Sebab, prinsip bisnisnya adalah tidak mengambil keuntungan besar. Justru, menurut Sinthya, banyak pihak yang merusak harga produknya di pasaran.

“Kita dari dulu nggak pernah mainin harga pasar karena harganya memang segitu. Justru sekarang kan, di (produk bahan) rajutan banyak pemainnya, kadang yang digunakan foto barang kita tapi barangnya beda.¬†Kualitasnya juga beda. Kita takut orang-orang jadi nggak percaya sama Mayoutfit. Tapi kita sudah atasi kendala itu dengan membuat watermark pada foto produk agar tidak dicuri,” terangnya.

Dalam sehari, Mayoutfit kini bisa menjual minimal 1.000 produk yang terbagi dalam 200-500 paket. “Kalau Lebaran kami bisa terima pesanan sampai 700 paket,” imbuh Sinthya.

Dengan penjualan masif seperti itu, Mayoutfit memiliki omzet rata-rata Rp1 miliar per bulan. Itu artinya lebih dari Rp12 miliar mereka kantongi dalam setahun.

Alhamdulillah, semua itu bisa kami peroleh setelah jatuh bangun, pernah ditipu, pernah rugi, dan juga karena konsep wholesale yang kami terapkan. Untung nggak besar, karena kita nggak ambil untung banyak, dan harga grosir yang bisa dibeli eceran,” terangnya.

Hingga saat ini, Mayoutfit sudah mempekerjakan 12 karyawan dan berhasil membangun satu toko offline di Jalan Geger Kalong, Bandung. Bahkan, Mayoutfit mulai melebarkan sayapnya ke kota-kota besar lainnya, seperti Yogyakarta, Semarang, Sukabumi, dan beberapa daerah lainnya.

Mayoutfit membuka kesempatan bagi toko-toko fashion di berbagai daerah untuk menjadi premium seller. Apa itu premium seller?

Dalam Instagram @Mayoutfit disebut bahwa premium seller harus memiliki toko fisik. Toko tersebut nanti akan mendapat suplai barang-barang dari Mayoutfit. Ini dilakukan demi memuaskan para customer mereka di luar daerah yang terkendala dengan jarak dan ongkos kirim.

Untuk menjadi premium seller Mayoutfit tentu ada syaratnya, yakni toko tersebut harus berbelanja minimal Rp10 juta.

“Belum ada toko fisik? Atau tidak memenuhi semua persyaratan di atas mohon maaf belum bisa gabung,” tulis Shintya di akun Instagram @Mayoutfit.

Dengan memperluas usahanya, omzet yang diperoleh Mayoutfit setiap bulannya tentu bertambah. Namun, Shintya belum bersedia membukanya.

Ke depannya, Sinthya telah memiliki rencana untuk meningkatkan mulai dari produksi, tenaga kerja, hingga pemasaran. Strategi pemasaran yang digunakan Mayoutfit ke depan juga akan lebih bervariasi.

Selain memanjakan pelanggan, berikutnya Mayoutfit juga akan menggelar acara charity atau kegiatan amal. Sinthya ingin mewujudkan mimpinya membantu orang-orang yang membutuhkan dengan menggandeng lembaga-lembaga sosial di kemudian hari.

Ia pun mengatakan untuk bisa sukses sebagai enterpreneur muda seperti sekarang ini, tidaklah mudah.

“Ketika benar-benar menjalani sesuatu dengan profesional tidak ada apapun yang mustahil, semua mudah untuk dilakukan walaupun di dalamnya terdapat banyak masalah dan membutuhkan proses yang relatif lama. Tidak ada sukses yang instan, berusaha buktikan kemampuanmu dan buktikan bahwa kamu adalah bagian dari wirausahawan sukses di Indonesia bahkan harus mendunia,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *