Tommy TRD, Sosok Inspiratif di Momen Peringatan Sumpah Pemuda

SURABAYAONLINE.CO, PADANG – Sosok pemuda inspiratif yang fokus mengabdi pada masyarakat dan negara, Tommy TRD, S.STP, Camat termuda dari Kecamatan Matur – Kabupaten Agam, Sumatra Barat, angkat bicara tentang pandangan-pandangannya mengenai ikrar Sumpah Pemuda yang dapat diaplikasikan pada masa sekarang ini. Tommy mengungkapkannya saat kami wawancarai pada hari Sabtu 28/10/2017 di Kantor Camat Matur – Matur Hilir, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Negara Indonesia diproklamirkan oleh tokoh-tokoh pemuda, dan reformasi juga terjadi atas perjuangan para pemuda. Ini bertitik tolak dari semangat pemuda yang menggalang persatuan dan kesatuan di peristiwa bersejarah Kongres Pemuda Kedua, yang berlangsung dua hari, 27-28 Oktober 1928, di Batavia (Jakarta) yang melahirkan ikrar ‘Sumpah Pemuda’.

“Begini, Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan bentuk pernyataan sikap dari setiap pemuda di Indonesia yang meyakini akan persatuan dan kesatuan Indonesia. Dan mereka akan menjadi duta-duta yang akan mewujudkan persatuan itu, dengan  memberikan yang terbaik yang mereka bisa, bagi bangsa ini,” kata Tommy, Camat kelahiran Padang, 11 Agustus 1986.

Sebagai seorang generasi muda yang memilih jalan hidup sebagai birokrat, Tommy memiliki pandangan tersendiri pada generasi muda zaman sekarang.

“Bagi saya, birokrat atau nonbirokrat hanyalah sebuah profesi. Saya tidak pernah memandang bahwa profesi birokrat lebih tinggi kedudukannya dari profesi lain. Pemuda yang ada pada zaman sekarang tentu menghadapi kesulitan atau tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga pendekatan terhadap penanganan atau solusinya pun tentu akan sedikit berbeda,” paparnya.

Menurtnya, ada benarnya bahwa pemuda sekarang semakin sedikit yang berpikir tentang bangsa, namun hampir semua pemuda di negara mana pun, terutama negara berkembang menghadapi hal seperti itu. Hal itu disebabkan karena di zaman yang serba digital saat ini, batas-batas yang dulu sangat jelas, sekarang menjadi sangat kabur. Transfer budaya, kebiasaan dan tradisi dengan cepat berkembang. Itu hal yang tidak terelakkan.

“Namun tugas kami selaku Pemerintah adalah menetapkan mana hal-hal prinsipil yang tidak boleh goyah, mana hal-hal yang adaptable sehingga pemuda zaman sekarang memiliki prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun di saat yang sama juga update terhadap perkembangan zaman,” kata Tommy.

Tommy juga mengulas tentang keberadaan pemuda di dunia pemerintahan saat ini.

“Sudah mulai terlihat ke arah sana. Namun tentu juga dibutuhkan proses agar pemuda yang memilih menjadi birokrat untuk dipercaya menduduki pos-pos yang strategis. Namun pemerintah saat ini, secara umum saya rasa sudah bergerak ke arah sana. Di Kabupaten Agam sendiri, kita harus angkat topi terhadap besarnya kepercayaan yang diberikan pimpinan kepada generasimuda untuk menduduki pos-pos strategis dalam bidang pemerintahan. Dengan begitu pemerintahan selalu berjalan dinamis, kreatif dan tidak membosankan.”

Sementara itu, sebagai birokrat muda, yang saat ini menjabat sebagai camat dengan masa karir yang masih panjang, Tommy TRD menjelaskan idealisme kepemimpinannya.

“Bagi saya pribadi, tua ataupun muda hanyalah sebuah angka, hanyalah usia. Terlebih di Minangkabau kita mengenal pepatah ‘mumbang jatuh kelapa jatuh’, artinya usia tidak berbanding lurus dengan ajal. Apakah saya menikmati? Selalu saja ada dua sisi dalam setiap pekerjaan, sisi yang membuat kita senang, dan sisi yang membuat kita mengeluh, yang mana itu sangat manusiawi. Dan saya selalu membatasi segala sesuatunya di dalam hidup saya. Saya hanya akan melaksanakan suatu pekerjaan selama saya bisa total dalam melaksanakannya. Jika saya merasa bahwa saya tidak mampu lagi melaksanakan tugas saya dengan maksimal, maka sudah sepantasnya saya menyerahkan pekerjaan, tugas atau jabatan saya kepada orang yang akan mengembannya lebih maksimal dari saya.”

Berpijak pada idealisme kepemimpinannya, Tommy siap untuk meninggalkan profesinya sekarang.

“Kenapa tidak? Itu hal yang lumrah saja. Sama seperti yang lainnya, waktu saya di dunia ini terbatas. Sebelum waktu itu habis adalah hal yang lumrah jika saya akan mencoba melakukan hal atau pekerjaan yang lain. Robin Sharma mengatakan kita tidak bisa menjalani tahun yang sama sebanyak 75 kali dan mengatakan itu adalah kehidupan,” kata Tommy.

Menutup wawancara dengan Tommy TRD, ia menjelaskan tentang pandangan-pandangannya ini terhadap generasi muda.

“Satu hal yang menjadi pembeda antara generasi muda dan tua adalah hal dinamis yang mereka miliki di dalam hati mereka. Sebuah semangat untuk melakukan sesuatu yang berujung kepada keberhasilan. Itu adalah hal yang harus terus dipupuk dan dikembangkan kepada hal-hal yang positif. Tentu saja mereka tidak harus memiliki pandangan atau prinsip hidup yang sama dengan saya. Namun selama mereka menjaga idealisme kemudaan mereka, semangat mereka untuk terus maju, berkreasi dan berkembang dalam hal-hal yang positif, maka mereka pada jalur yang tepat.”(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli).

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *