Ketua Nawacita Pun Terisak saat Mengenang Masa Sakitnya

SURABAYAONLINE.CO-Ketua tim Nawa Cita RM Suryo Atmanto sehari-harinya seperti kita ketahui sangat energik dan semangat mengemban tugas. Pria ramah dan supel ini karena tugasnya juga sering melanglang ke manca negara dan seluruh Nusantara. Namun di acara “Nikmatnya Hidup dengan Otak Sehat” di Century Park Hotel Senayan Jakarta bersama  beberComprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Indonesia beberapa waktu lalu. Ia sempat terisak, larut dalam keharuan apa sebabnya?

Suryo saat itu di hadapan peserta gathering berbagi kisah soal penyakit yang menderanya. Selama 12 tahun ternyata Suryo menderita sakit yang disebut wajah merot atau hemifacialspasm atau tick facialis. Sudah bererapa pengobatan ia jalani tetapi tak kunjung menemukan kesembuhan. Biaya untuk pengobatan yang selama ini ia jalani juga tidak murah.

Dan yang membuat ia menitikkan air mata, ternyata penyakit itu membuatnya harus mundur dari sebuah perusahaan IT yang ternama, bukan karena ia tidak mampu mencapai apa yang ditargetkan kepadanya. ” Saya selalu ditanya apakah saya baik-baik saja dengan wajah merot itu, apakah tidak mengganggu? tuturnya.

Karena seringnya ia ditanya, maka ia pun akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan. “Saya akhirnya mundur demi perusahaan, karena pemilik mengatakannya soal pendapat orang terhadap sakit yang saya derita” paparnya. Mundur bukan karena saya tak mampu mengemban tanggung jawab.

Saat ia menitikkan air mata, peserta pun larut dalam haru mendengar ceritanya.

Setelah ia mundur dan penyakitnya bertambah parah, ia mencari pekerjaan dan nyatanya semakin sulit.

“Jadi eksekutif, karena akan sering ketemu dengan orang membuat saya ditolak, lalu kalau saya melamar sebagai konsultan sudah dianggap terlalu tua, jadi serba salah,” katanya.

Mencari Kesembuhan

“Sakit saya ini awalnya hanya kedutan, lha sebagai orang Jawa..wah ini akan dapat rejeki,” tuturnya. Namun seiring bertambahnya waktu, kedutan itu akhirnya membuat wajahnya merot satu sisi dan bahkan menjalar ke leher.

Diagnosa pertama kali oleh dokter ia divonis stroke. Namun kemudian beberapa dokter mengatakan bahwa sarafnya bermasalah yakni saraf hiperaktif sehingga perlu disuntik botoks agar tidak aktif.

“Delapan tahun terakhir saya menjalani suntik botoks agar wajahnya saya tidak merot,” papar Suryo.Ia mengakui biaya itu mahal karena sebulan butuh biaya Rp 4 juta. Lha kalau efek suntik botoks itu hilang, maka suntikan harus dilakukan kembali. Efeknya hanya sementara.

Suntik botoks itu katanya, juga cukup mengerikan, karena ada enam titik yang harus disuntik. Yang paling tegang, katanya, adalah saat disuntik di bagian mata. “Bagaimana tidak tegang saat disuntik itu mata tidak boleh merem, harus tetap terbuka, ini kan merepotkan.”

Setelah mnejadi Ketu Tim Nawacita ia juga mendapatkan berbagai saran untuk menyembuhkan sakitnya. Yang paling ngeri, katanya, ada yang bilang bahwa batok kepala saya akan dibuka. “Seperti membuka kap mobil.” Katanya, lainnya ada yang mengatakan kepala saya akan dibuka dari belakang sampai separo.

“Lalu saya ketemu seorang perawat yang memberi tahu saya bahwa ia juga menderita hemifacialspasm, dan sembuh di Surabaya, bahkan perawat itu menunjukan fotonya saat sebelum sembuh.”

Akhirnya ia sembuh di Surabaya ditangani oleh dr M Sofyanto SpBS dan tim. “Saya hampir tak percaya bahwa saya sembuh, esoknya saya langsung ke Jogjakarta dan kemudian melakukan aktivitas seperti biasa. Salut untuk dr Sofyanto dan tim, dan ini sesuai dengan Nawacita butir keenam yakni meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya

Seperi diketahui HFS terjadi karena terjadinya tekanan pada saraf ketujuh oleh pembuluh darah dan disembuhkan melalui operasi untuk memisahkan perlengketan itu. Suryo Atmanto menjalani operasi tahun 2016 lalu.(*)