Memastikan Hari Jadi Kota Gresik Lewat “Jejak Rekam DPRD Gresik”

SURABAYAONLINE.CO, GRESIK – Sebuah buku yang berjudul “Jejak Rekam DPRD Gresik”, kini telah terbit. Buku itu, secara rinci merekam sejarah panjang DPRD Gresik sebelum akhirnya resmi menjadi kantor wakil rakyat sekarang.

Rencananya, buku yang disusun Abdul Abbas, budayawan yang juga mantan wartawan Surabaya Post tersebut, akan dibedah secara lugas dan akademisi oleh Komunitas Wartawan Gresik (KWG), Sabtu (21/10/2017).

Abdul Abbas menjelaskan, ide penyusunan buku tersebut tidak lepas dari kegalauan tokoh maupun budayawan Gresik tentang sejarah berdirinya Kabupaten Gresik apalagi perayaan hari jadi Kota Gresik kerap digelar setiap tanggal 27 Februari.

Menurut Abbas, berdasar hasil penelitian awalnya parlemen Gresik bernama DPRD Kabupaten Surabaya. Anggotanya adalah para legislator terpilih pada Pemilu 1971. Sebab, dulu sebelum 1974, Gresik bernama Kabupaten Surabaya yang beribu kota di Gresik.

Setelah itu, DPRD Kabupaten Surabaya mengajukan usul perubahan nama menjadi Kabupaten Gresik. Akhirnya, pada 1 November 1974, Presiden (waktu itu) Soeharto menerbitkan PP bernomor 38/1974 tentang Perubahan Nama Kabupaten Surabaya.

“Saya belum menemukan dasar sejarah, kenapa peringatan Hari Jadi Kota Gresik selalu digelar setiap tanggal 27 Februari. Saya justru menemukan bukti otentik, berupa piagam berdirinya Kabupaten Gresik adalah tanggal 1 Nopember 1974, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Surabaya,” ungkapnya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Abbas kemudian menelusuri berbagai jejak rekam sejarah perjalanan Pemerintahan Kabupaten Gresik melalui berbagai literasi, serta interview para tokoh yang menjadi pelaku sejarah tersebut.

Ide itu ternyata bak gayung bersambut, sejumlah tokoh Gresik mendukungnya. Termasuk Ketua DPRD Gresik Abdul Hamid. Akhirnya, misi besar mulai digarap pada pertengahan 2016. Dan Abbas ditunjuk sebagai pemimpin produksi.

Abdul Hamid, mengatakan semua hari jadi semestinya memiliki dasar sejarah. Jika hari jadi Kabupaten Gresik didasarkan pada pelantikan Sunan Giri, itu bisa diterima. Namun untuk Hari Jadi Kota Gresik, perlu didiskusikan lagi.

“Salah satu yang paling esensi dari rencana bedah buku ini adalah ingin mendiskusikan kembali penetapan Hari Jadi Kota Gresik yang selama ini ditetapkan pada 27 Februari. Itu dasarnya apa?”, ujarnya.

Menurut Hamid, buku “Jejak Rekam DPRD Gresik” merupakan upaya penelusuran sejarah yang positif hingga bisa menjelaskan kepada generasi muda tentang peran serta DPRD Gresik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kami berharap bisa dilakukan oleh penulis-penulis lainnya,” ucapnya.

Ketua Komunitas Wartawan Gresik (KWG) Sugiono menjelaskan bedah buku tersebut akan diikuti berbagai unsur masyarakat, budayawan dan akademisi. Ini merupakan salah satu kiprah para jurnalis yang tergabung dalam Komunitas Wartawan Gresik dalam membantu memberikan pemahaman sejarah tentang Gresik.

“Selama ini para wartawan dikenal kerap memberitakan peristiwa kekinian di Gresik, padahal peristiwa sejarah penting pula disampaikan ke masyarakat agar diperoleh pemahaman yang utuh tentang Gresik,” jelasnya. (san/adv)