Ribuan Pelari dari 34 Negara Ikuti Lari Tanjakan 170 KM Bromo

 SURABAYAONLINE.CO- Ribuan pelari ultra trail atau pelari lintas alam ultra akan ambil bagian dalam event Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 3-5 November 2017 mendatang. Para pelari berasal dari 34 negara diantaranya Prancis, Jerman, Swiss, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Hongkong, serta beberapa negara lainnya.

Dari Indonesia akan ada 742 peserta dimana 196 di antaranya merupakan peserta dari Jawa Timur. Jumlah ribuan peserta ini tak lepas dari tren positif perkembangan ultra trail, baik di dunia dan khususnya di tanah air.

Sebuah lomba lari lintas alam disebut ultra bila memperlombakan jarak lari di atas jarak lari marathon atau di atas 42 km. BTS Ultra kali ini digelar untuk kali kelima. Saat lomba BTS ini digelar pertama kali pada 2013 lalu, pesertanya hanya 107 orang. Pada 2016 ada 545 pelari. Sedangkan tahun ini membeludak menjadi 1000 pelari yang lolos kualifikasi.

Jumlah yang mendaftar sebenarnya ada 1303 pelari. Namun banyak dari mereka yang belum memenuhi kualifikasi untuk ikut turun berlari di nomor yang mereka kehendaki.

“Pada saat 2013 itu peserta 170 km hanya 5 orang, itu pun persyaratan kualifikasinya diperlonggar. Tapi sekarang pesertanya menunjukkan pertambahan yang signifikan. Alam kita indah dan cuaca kita mendukung untuk lari sepanjang tahun,” kata Hendra Wijaya, founder BTS Ultra saat menggelar konferensi pers di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jumat (22/9/2017).

Ada empat nomor yang dilombakan dalam BTS Ultra 2017 kali ini. Jarak yang terjauh 170 km atau 100 mil, yang diikuti 42 pelari laki-perempuan. Peserta untuk nomor ini kualifikasinya harus sudah pernah finis lari ultra trail 100 km dalam lomba sebelumnya. Hampir seluruh pelari elit ultra trail Indonesia turun di nomor ini.

Berikutnya jarak 102 km ada 143 pelari (syaratnya harus sudah finis lomba lari ultra trail 50 km). Nomor berikutnya 70 km ada 338 pelari (syaratnya harus pernah finis lomba lari ultra trail 21 km atau full maraton 42 km). Nomor terpendek 30 km ada 454 pelari. “Khusus 30K tidak ada kualifikasi khusus,” kata Rudi Rochmansyah Race Director BTS Ultra.

Setiap nomor tersebut ada cut-off time (CoT) atau batas waktu maksimal bagi pelari untuk bisa disebut finisher atau penamat. CoT untuk masing-masing nomor adalah : 46 jam untuk 170 km, 32 jam untuk 102 km, 18 jam untuk 70 km, dan 7 jam untuk 30 km.

Semuanya start dan finis di Lava View Hotel, Desa Wonokitri, Cemoro Lawang, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Sebagai contoh untuk rute 170 km start di Lava View Cemoro Lawang lalu turun ke lautan pasir Bromo dan naik ke bukit B29. Selanjutnya menuju Ranu Pane, dan masuk ke jalur pendakian Gunung Semeru mulai Ranu Kumbolo hingga Kalimati.

Kemudian peserta turun menuju ke jalur Ayak-Ayak, Ngadas. Jalak Ijo, Kandangan, Pananjakan, Jetak, B29, Jemplang, dan Bromo kemudian Batok, dan finish di Cemoro Lawang.

Jalur tersebut diberi pertanda (marking) dan ada marshall (penjaga) di beberapa titik demi keamanan peserta.

“Lomba ultra trail tentu lebih berat dibanding lari di jalanan datar atau road makanya kualifikasi dilakukan dengan ketat mengingat keselamatan bersama. Untuk jarak 170 km gainnya (tanjakan) 10000 m, 102 km gain 5265 m, 70 km gain 3000 m, dan 30 km gain 1332 m,” kata Rudi yang juga race director Rinjani 100 ini.

Pelari yang berhasil menamatkan lomba ini, khusus untuk nomor 170 km, 102 km, dan 70 km, akan mendapatkan poin. Di mana poin itu dapat digunakan sebagai syarat untuk ikut lomba lari serupa yaitu di UTMB (Ultra-Trail du Mont Blanc). UTMB adalah lomba impian bagi pelari trail yang dilangsungkan di Prancis, Swiss, dan Italia.

“Semua kombinasi ini ada di BTS. Panas dan dingin sekaligus. Lomba yang menawarkan poin UTMB dengan berlari di lautan pasir Bromo, menerabas padang savana rumput, menembus lebat hutan di Semeru, hingga tenangnya air di Danau Ranu Kumbolo, membuat lomba ini semakin diminati peserta,” kata Rudy.

Sementara itu Saifullah Yusuf (Gus Ipul) Wakil Gubernur Jawa Timur mengatakan, event ini sesuai dengan misi Jawa Timur menggalakkan sport tourism. Kehadiran event tersebut juga sangat positif sebagai promosi pariwisata di Jawa Timur.

“Begitu saya tahu ada event ini, kami memberikan dukungan penuh,” ujar Gus Ipul. Menurut dia, event ini bisa terus diselenggarakan setiap tahunnya dan akan menjadi kalender pariwisata di Jawa Timur. Dia juga berharap para trail runners Jawa Timur bisa merebut minimal salah satu tempat di podium. (suarasurabaya.net)