Data Nasabah Bank Dijual Mulai Rp 350.000 per Paket, Pelakunya di Siodarjo

SURABAYAONLINE.CO- Kasus jual beli data nasabah kembali marak beberapa hari terakhir setelah Bareskrim Polri menangkap jaringan penjual data. Berapa kira-kira data tersebut dijual?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan sindikat biasanya menjual data nasabah industri keuangan, mulai dari perbankan hingga asuransi, seharga Rp 350.000 hingga Rp 1 juta per paket.

“Harganya bervariasi mulai dari paket Rp 350.000 untuk 10.000 data. Isinya mulai dari nama, nomor rekening (customer identity file), nomor handphone sampai alamat,” kata Direktur Market Conduct OJK, Bernard Widjaja kepada detikFinance, Jumat (25/8/2017).

Dia menjelaskan, penjual juga memiliki paket data nasabah lain. Makin mahal paket maka makin lengkap data yang didapatkan.

“Kalau yang lengkap, kita bisa dapatkan data sampai nama ibu kandung. Tapi untuk paket Rp 1 juta mereka biasanya jual terbatas. Makin mahal makin komplit datanya,” ujar Bernard.

Dia mengatakan, bahkan untuk paket yang di atas Rp 1 juta, penjual juga akan menampilkan nama bank di dalam file yang diperjualbelikan.

“Mereka kirim data lengkap pakai file microsoft excel. Jadi sudah tersusun rapi,” ujar dia.

Padahal sesuai dengan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14/SEOJK.07/2014 tentang Kerahasiaan dan Keamanan Data dan/atau Informasi Pribadi Konsumen, PUJK dilarang memberikan informasi data nasabah kepada pihak ketiga.

Direktur Market Conduct OJK, Bernard Widjaja, menemukan penjualan data nasabah di Bogor, Jawa Barat dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Menurut dia, penjualan data nasabah ini berpotensi menciptakan kerawanan di industri keuangan. Karena itu OJK mencari informasi sedetail mungkin mulai dari media sosial sampai situs website pribadi seperti blog.

“Kami telusuri penjual itu dari internet, mereka ada di Bogor dan Sidoarjo,” kata Bernard kepada detikFinance, Jumat (25/8/2017).

Dia mengatakan, penjual di kedua daerah tersebut tidak mau saat diajak untuk cash on delivery (cod) dalam bertransaksi.

“Mereka tidak mau ketemu, maunya transfer dan kirim file lewat WhatsApp atau email saja,” ujarnya.

Menurut Bernard, sebenarnya masih banyak penjual dari berbagai daerah dan masih dibidik oleh OJK.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengimbau masyarakat berhati-hati dalam memberikan izin kepada pihak industri jasa keuangan.

Dia mencontohkan, jika nasabah membuka tabungan harus memperhatikan formulir yang diisi. Pasalnya, di sana ada satu sub bagian yang menanyakan apakah nasabah bersedia atau tidak jika datanya digunakan oleh pihak ketiga.(*)