SAVE PALESTINE SAVE HUMANITY

Oleh : Tofan Mahdi – Praktisi Komunikasi

SURABAYAONLINE.CO –  Sejatinya, konflik di Palestina bukanlah konflik agama. Tetapi adalah perjuangan warga Palestina (Muslim dan Kristen) merebut kembali tanah mereka yang dikuasai oleh Israel. Solusi dua negara (two state solution) yang digagas sejak ditandatanganinya Perjanjian Camp David (1977) juga tak pernah terlaksana. Israel yang berdiri di atas tanah orang sudah diakui oleh PBB menjadi sebuah negara. Sedangkan bangsa Palestina yang sudah sejak awal hidup di atas tanah mereka sendiri, sampai sekarang masih berjuang untuk bisa menjadi bangsa yang merdeka. Jerusalem (Al Quds) adalah wilayah Palestina yang juga direbut oleh Israel setelah koalisi negara-negara Arab (Mesir, Yordania, Suriah) kalah dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Dalam perang 1967 itu juga, Dataran Tinggi Golan yang awalnyam dikuasai Suriah juga jatuh ke tangan Israel. Mesir di bawah Anwar Sadat kemudian membalas kekalahan ini dalam Perang Yom Kipur tahun 1973 dan berhasil merebut kembali Terusan Suez dan Gurun Sinai dari tangan Israel. Ini adalah kemenangan pertama koalisi negara-negara Arab dalam pertempuran melawan Israel sejak negeri Yahudi itu memproklamasikan diri tahun 1948. Sadat pun menjadi pahlwan dunia Arab dan dielu-elukan di mana-mana. Setelah kemenangan itu, Sadat memilih jalur diplomatik dalam berjuang melawan Israel. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian setelah Perang Yom Kipur, Sadat mengeluarkan kebijakan yang sangat berani dan kontroversial: membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tahun 1977, Anwar Sadat menjadi pemimpin Arab pertama yang menginjakkan kaki di Kota Tel Aviv dan diberi kesempatan memberikan pidato di depan Knesset (Parlemen Israel). Setahun kemudian atau pada 1978, PM Israel Menachem Begin melakukan kunjungan balasan ke Kairo. Atas pilihan kebijakan politik luar negeri yang sangat berani dan melawan arus ini, Anwar Sadat menanggung risiko yang sangat besar. Pada bulan Oktober 1981, dalam parade militer memperingati kemenangan Mesir dalam Perang Yom Kipur, Anwar Sadat ditembak mati oleh tentaranya sendiri. Wakil Presiden Mesir yang juga terluka dalam peristiwa itu, Husni Mobarak, kemudian menggantikan Sadat sebagai Presiden. Sejak Perang Yom Kipur, praktis secara militer tidak pernah ada lagi kemenangan negara-negara Arab melawan Israel. Dan, seperti kita tahu, ketika banyak negara Timur Tengah terbelah, Israel semakin hegemonik mencengkeram Palestina. Sejak zaman Bung Karno, pemerintah Indonesia tidak pernah mengakui Israel sebagai sebuah negara dan selalu mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka. Dukungan Bung Karno saat itu lebih konkret dalam bentuk bantuan fisik dan juga diplomasi termasuk dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Saat ini, ketika bangsa kita masih banyak dirundung masalah mulai korupsi, utang, dan kemiskinan, entah dukungan apa yang bisa diberikan pemerintah Indonesia kepada rakyat Palestina. Tentu saja selain dukungan doa dan pernyataan diplomatik bahwa bangsa Indonesia selalu berada bersama rakyat Palestina. Salam. (tofan.mahdi@gmail.com)

http://www.kompasiana.com/tofanmahdi/abu-ghosh-kota-muslim-di-negeri-yahudi_552b1bc46ea8346b47552d06