Lagi, Soal Komunikasi

Tofan Mahdi – Pemerhati Media

SURABAYAONLINE.CO, Cibubur – Sebelumnya perlu disampaikan bahwa prinsip dasar dalam ilmu komunukasi adalah pemahaman tentang konteks. Melihat sebuah peristiwa atau kejadian, membaca sebuah narasi atau berita, atau apapun itu, agar pemahaman kita utuh maka konteksnya perlu kita pahami terlebih dahulu. Terkait foto yang saya upload di atas beserta teks yang saya tulis: konteksnya adalah saya sebagai seorang mantan wartawan dan sebagai seorang praktisi komunikasi (humas). Begitu melihat foto di atas, saya langsung menyimpulkan bahwa penyelenggara acara tersebut tidak paham peran dan profesi wartawan. Bisa dimaklumi jika yang membuat pengumuman itu bukan dari humas atau tidak memiliki latar belakang ilmu tentang media dan kehumasan. Namun jika itu yang membuat adalah tim humas, maka yang bersangkutan bisa saya simpulkan sebagai seorang humas yang tidak profesional. Sekali lagi, penilaiain ini dalam konteks saya sebagai seorang mantan wartawan dan praktisi kehumasan. Namun jika kita melihatnya dalam konteks sebagai orang awam, awam dalam dunia media dan komunikasi publik, tidak ada yang salah dengan tulisan “Tempat makan wartawan dan driver” tersebut. Karena itu, saya memahami pertanyaan sahabat saya Mas Kaji Sueb Rahab, “Tidak bisa dijadikan satu ya Abah Tofan Mahdi? Tempat makan wartawan dan driver”. Pertanyaan ini muncul karena sahabat saya Kaji Sueb ini awam tentang dunia wartawan, media, dan kehumasan. Beberapa teman yang tidak berkecimpung di dunia media dan humas, juga akan mengajukan pertanyaan yang sama. Apa yang salah? Ya tidak ada yang salah. Itu wajar saja. Nah, selanjutnya saya akan menjelaskan bagaimana memahami peristiwa ini dalam konteks kita sebagai wartawan atau sebagai seorang praktisi komunikasi.

Sebelum saya tuliskan kembali penjelasan saya, mari kita lihat peristiwa tersebut secara lebih utuh. CMIIW (correct me if I’m wrong), tulisan itu ada dalam rangkaian kegiatan peresmian gedung baru salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Hadir dalam kegiatan tersebut Menristek Dikti. Bagi penyelenggara, kegiatan tersebut sangat penting. Dan, mungkin, pihak penyelenggara mengundang dan mengharapkan kehadiran rekan-rekan wartawan untuk meliput sehingga kehadiran Pak Menteri bisa diekspose. Wartawan diundang ini mungkin lho ya, bisa jadi pihak kampus tidak mengundang wartawan. Tapi karena ada menteri, pihak kampus berasumsi mungkin nanti akan ada wartawan yang datang. Apapun itu, urusan dengan wartawan ini kemungkinan diserahkan kepada tim
di biro humas. Sampai kemudian hari H, wartawan datang, meliput, acara hingga saat tiba makan siang mereka makan di tempat yang telah disediakan tadi. Ini pendapat saya pribadi, jika saya sebagai wartawan yang datang ke kampus tadi, ada dua kemungkinan langkah yang saya ambil: saya langsung putar haluan meninggalkan lokasi begitu membaca tulisan tempat makan tadi; kedua, saya tetap makan di tempat makan tersebut kemudian pulang dan beritanya tidak akan saya tulis. Teman-teman wartawan akan mengambil sikap yang berbeda-beda menyikapi hal ini. Tidak ada yang salah dan sah-sah aja. Misalnya saya adalah wartawan yang bekerja di media mainstream di Surabaya dan jika kehadiran Pak Menristek Dikti tidak dimuat oleh media tersebut maka pihak kampus akan kelabakan atau minimal bertanya-tanya. Maka kemungkinan langkah yang akan diambil pihak humas kampus adalah akan menghubungi saya mengapa koq pulang atau mengapa koq beritanya tidak dimuat. Kemungkinan jawaban yang akan saya berikan adalah sebagai berikut, “Oh ya terima kasih undangannya Mas/ Mbak, maaf saya ada liputan lain.” Atau saya akan menjawab lebih lugas, “Malas Mas/ Mbak, mungkin panjenengan perlu belajar lagi tentang dunia kewartawanan.” Jawaban seperti ini agak sadis, tapi mungkin saja terjadi. Kemungkinan lain, setiap ada undangan dari kampus tersebut, wartawan akan malas untuk datang. Apakah wartawan akan menjelaskan kepada pihak kampus (humas kampus) alasan mereka mengapa bersikap seperti itu? Kemungkinan besar tidak, itu bukan urusan kami sebagai wartawan. Tapi itu adalah urusan humas kampus yang mungkin perlu belajar lebih baik lagi tentang dunia wartawan, media, dan kehumasan. Toh berita kehadiran Pak Menteri tidak dimuat di media bukan wartawannya yang akan dimarahi. Btw, penjelasan ini tentu saja subjektifitas saya sebagai pribadi yang kebetulan selama 12 tahun menjadi wartawan dan 8 tahun menjadi humas. Semoga bisa menjadi bahan diskusi. Silakan bagi para senior dan rekan-rekan ikut nimbrung membahas isu kecil tapi menarik ini. Bagaimana pendapat Ibu Sirikit Syah, Mas Ahmad Akhmad Munir, Mas Lucky Lokononto Beritajatim, dll? Salam dari Cibubur Jakarta.*