Dampak Limbah Popok Sekali Pakai Terhadap Ekosistem Perairan

SURABAYAONLINE.CO-Survei Nielsen Consumer Panel Services (Nielsen Homepanel) terhadap konsumen Indonesia yang memiliki anak batita menunjukkan bahwa 20% belanja barang konsumsi untuk keperluan batita. Popok sekali pakai merupakan salah produk bayi yang memiliki pasar terbesar kedua setelah susu bayi. Hingga kemudian bukan hal yang mengagetkan bila data MIX (2017), nilai bisnis produk DIAPER sebesar Rp 9,8 triiliun dengan pertumbuhan 26.2%/tahun[1].

Hasil survey yang dilakukan oleh ECOTON selama tiga hari di daerah Wringinanom (Gresik) hingga Jambangan (Surabaya) dengan narasumber sebanyak 100 orang menunjukkan bahwa 61% narasumber menggunakan lebih dari 4 popok sekali pakai/hari dan 36% menggunakan 2-4 popok sekali pakai/hari. Tingginya penggunaan diaper yang tidak diikuti dengan tersedianya sarana penampungan dan pengelolaannya menambah beban lingkungan yang sudah ada.

Meskipun 89% responden yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka membuang limbah popok sekali pakai ke tempat sampah. Namun setelah dicermati selama dilakukan evakuasi, tempat sampah yang dimaksud berada di tepian sungai, sehingga apabila meleset saat melempar dan atau banjir, limbah popok sekali pakai akan tetap  masuk ke dalam sungai.

Berdasarkan data BPS Jatim (2013), populasi anak di bawah usia 5 tahun adalah sebesar 1,592,525 anak yang merupakan pasar potensial bagi produk popok sekali pakai Jatim.Dengan asumsi bahwa setidaknya 42.16% populasi penduduk Jatim tinggal di wilayah sungai (WS) Brantas (BBWS Brantas, 2011), dan penggunaan minimal 4 popok/hari maka setidaknya ada 2,685,634 popok bekas pakai/ hari. Bila dikalikan 365 hari dan berat diaper bekas pakai 10 gr/popok maka diaper bekas pakai di WS Brantas sebesar 9,802 ton popok bekas pakai/tahun. Tidak ada data yang jelas terkait besaran diaper bekas pakai yang masuk ke TPA dan sisanya yang masuk ke sungai. Namun dari hasil evakuasi popok bekas pakai selama 3 hari yang dilakukan oleh ECOTON, terdapat 2.5 kuintal popok bekas pakai yang berhasil diangkat dari sungai.

Besaran popok bekas pakai yang berhasil diangkat oleh ECOTON dari sungai merupakan fenomena gunung es. Rahmad, 24 tahun, pencari cacing sutra yang lokasi kerjanya berada di Kali Surabaya, tepatnya di sekitar Jembatan Karang Pilang 1 bercerita bahwa dasar sungai tertutup oleh popok bekas pakai. Perlu diingat bahwa popok sekali pakai membutuhkan waktu untuk terurai selama 400 tahun. Selain permasalahan lama waktu terurai, bahan kimia yang digunakan dalam popok sekali pakai juga turut menambah permasalahan pencemaran air di Kali Surabaya.

Klorin yang digunakan sebagai pemutih pulp menghasilkan bahan kimia sampingan, DIOKSIN dan banyak penelitian di AS terdeteksi pada popok sekali pakai. Pencegah bau menggunakan ptalat, dikenal sebagai salah satu penyebab iritasi. Satu lagi yang tidak kalah, penting terdeteksinya tributiltin (TBT). Ketiga senyawa: DIOKSIN, PTALAT, TRIBUTILTIN merupakan senyawa pengganggu hormon yang menyerupai hormon estrogen. Lepasnya ketiga senyawa ini ke air, menjadi salah satu penyebab 20% ikan bader jantan  yang hidup  di Kali Mas berubah menjadi bencong. Belum lagi komponen plastik yang digunakan ketika terendam air akan terdegadrasi menjadi bentuk yang lebih kecil lagi, yang disebut mikro dan nano plastik.

Nano dan mikro plastik terlepas masuk ke dalam rantai makanan pada akhirnya akan kembali ke manusia dalam bentuk bahan pangan, macam ikan, kerang dan produk konsumsi lainnya yang berasal dari perairan. Perlu selalu diingat bahwa apapun yang dihasilkan dan dibuang ke lingkungan akan kembali lagi ke manusia melalui berbagai cara, salah satunya adalah rantai makanan. Penyelesaian permasalahan secara terintegrasi dan langsung dari sumbernya merupakan solusi permasalahan limbah popok sekali pakai, dengan catatan bahwa setiap pemangku kepentingan secara bersama-sama berperan aktif dalam mengatas permasalahan dan tidak saling lempar tanggung jawab.(Riska Darmawanti, M.Si)

[1] Aruman E. 2014. Mengapa Indofood berambisi masuk ke pasar popok bayi. http://mix.co.id/corcomm-pr/corporate-news/mengapa-indofood-berambisi-masuk-ke-pasar-popok-bayi