Konser sekaligus buka puasa bersama Lesti D’Academy mendapat kencaman

SURABAYAONLINE.CO, Pamekasan – Konser sekaligus buka bersama Lesti D’Academy yang diselenggarakan di desa Nyalabuh Daya kecamatan Kota, kab. Pamekasan, mendapat kecaman dari sejumlah aktivis di Pamekasan, Jum’at sore (16/06/2017).
Acara yang dilaksanakan di desa Nyalabuh Daya tersebut berlangsung meriah. Namun dibalik kemeriahan acara tersebut ada kejanggalan yang terjadi pada sebagian masyarakat Pamekasan.
Menurut informasi yang dihimpun wartawan surabayaonline.co, Lutfiadi selaku aktivis di Pamekasan, mengungkapkan bahwa ada sebagian dari masyarakat yang merasa kecewa terhadap ulama yang ada di Pamekasan. Karena kalau mengingat acara konser Irwan D’A2, sekitar bulan April 2016 lalu, para ulama menyoroti acara tersebut, bahkan sampai yang melayangkan surat kepada Bupati, untuk mencegah agar acara tersebut tidak terlaksana. Dengan dalih agar tidak merusak citra gerbang salam.
“Sekitar bulan april lalu Pamekasan menghadirkan Irwan asal Sumenep, salah satu juara DA2, yang bertempat di lapangan Sedangdang Pamekasan. Sebelum acara berlangsung, banyak kecaman dan isu akan digagalkannya konser Irwan karena diduga mengundang maksiat, salah satunya karena penonton akan bercampur pria dan wanita dll, entah itu kecaman dari ulama’ dan pecinta kota gerbang salam” tutur Adi sapaan akrab Luthfi.
Dirinya juga menyayangkan, Irwan artis lokal Madura waktu itu ditolak, dengan alasan takut muda mudi berbaur, dan menimbulkan maksiat. Sedangkan Lesti yang sudah jelas bukan warga Madura, juga dengan pakaian tidak tertutup, tapi tidak ada respon dari pihak ulama. Ramadan yang harusnya dilaksanakan dengan memperbanyak beribadah, namun kali ini tidak demikian. Ratusan masyarakat mempagari jalan Raya, demi menyambut kedatangan Lesti.
“Dulu Irwan ditolak dengan alasan takut maksiat, sedangkan lesti artis yang bukan asal Madura harus dimeriahkan dengan konvoi dan penonton juga bercampur pria wanita serta menggunakan pakaian yang sudah jelas mengumbar aurat, dan diletakkan dibulan puasa. Tapi kenapa ulama dan pecinta Gerbang Salam bungkam dan tidak ada komentar serta tindakan? Apakah ia kota Pamekasan yang mempunyai icon Gerbang Salam saat ini sudah tidak sakti lagi ? Atau masyarakatnya sendiri perlu ditanyakan kenapa lebih suka membiarkan artis luar yang mengumbar aurat tampil di Pamekasan? Atau apakah ada oknom-oknom yang menyatakan sikap di konser Irwan sudah mendapatkan jatah dari panitia acara Lesti? Hal ini harus diluruskan agar keadilan dan icon Gerbang Salam tetap utuh dan tegak di garis porosnya” tegas Adi dengan nada kecewa.
Selain itu, komentar lain juga berdatangan pada status akun Facebook milik Luthfiadi, ada yang pro ada pula yang kontra dengan isi status yang dipostingnya.(lut/go2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *