TKI Korban Penganiayaan, Erwiana Kini Perjuangkan Hak Buruh Migran

SURABAYAONLINE.CO— Mantan tenaga kerja wanita (TKW) asal Ngawi, Erwiana Sulistyoningsih, 26, sempat membuat heboh masyarakat internasional karena kasus penganiayaan oleh majikan yang menimpanya di Hong Kong. Kini Erwiana mengabdikan diri untuk memperjuangkan hak-hak dan mendampingi kasus buruh migran di luar negeri.

Erwiana menjadi salah satu pengurus lembaga sosial Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (Kabar Bumi) yang juga fokus dalam mendampingi buruh migran.

Salah satu kasus yang kini ditangani Erwiana bersama sejumlah aktivis dari Kabar Bumi yaitu kasus penganiyaan yang dialami Fadila Rahmatika, 21, TKW asal Ponorogo yang dianiaya majikannya di Singapura.

Perjalanan Erwiana dalam menjalani hidup berubah drastis semenjak dirinya dianiaya majikannya di Hong Kong. Erwiana berangkat ke Hong Kong untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada Mei 2013. Saat itu, ia ditempatkan di apartemen milik majikannya di Tong Ming Street, Kowloon, Hong Kong.

FOTO:IST

Ia pergi ke Hong Kong untuk mencari kesuksesan dan bisa membantu orang tuanya dalam persoalan ekonomi. Namun, bukannya uang yang bisa diantar ke rumah untuk keluarganya, justru ia pulang membawa kasus.

Sejak kasusnya mencuat ke publik hingga membuat dirinya menjadi sorotan masyarakat dunia, Erwiana mengaku sempat shock. Hampir setiap hari ada wartawan yang meliput dan memfoto dirinya. Selain itu, ia juga merasa malu terhadap dirinya sendiri.

“Saat itu sempat malu, karena saya pergi ke luar neger kan untuk bekerja dan mencari uang. Saat itu, saya inginnya ya seperti tetangga dan teman yang sudah berhasil menjadi TKW dan memperbaiki perekonomian keluarga,” jelas Erwiana kepada Madiunpos.com di Sekretariat Kabar Bumi Ponorogo, beberapa waktu lalu.

Kasus kekerasan yang dialami Erwiana menyita perhatian dunia pada saat itu. Aksi dukungan dan mengecam kekerasan yang menimpa Erwiana digelorakan di berbagai negara. Hingga pada bulan April 2014, majalah Time menobatkan Erwiana sebagai salah satu dari 100 orang berpengaruh versi Time.

Aksi berani Erwiana dalam memublikasikan kasusnya itu dianggap menjadi ujung tombak perlawanan buruh migran melawan kekerasan dan diskriminasi. Dia berharap buruh migran akan terus berani dalam meneriakkan ketidakadilan dan diskriminasi.

“Dengan aksi tersebut, kami merasa harga diri kami sebagai buruh migran diapresiasi dan diangkat kembali. Kami merasa bekerja di luar negeri itu bukan serendah-rendahnya pekerjaan,” jelas dia.

Saat ini Erwiana mengabdikan diri di LSM Kabar Bumi yang dirintisnya bersama beberapa buruh migran lainnya. Selain mendampingi kasus, ujar Erwiana, saat ini dirinya juga menjadi konsultan dalam berbagai hal dalam permasalahan kasus yang dihadapi buruh migran. Konsultasi biasanya dilakukan melalui telepon maupun media sosial.

Kasus yang banyak ditangani Erwiana yaitu persoalan dokumen ditahan perusahaan yang memberangkatkan TKI maupun agen TKI. Selain itu, persoalan dokumen palsu yang dilakukan oleh PJTKI yang memberangkatkan.

“Permasalahan TKI saat di luar negeri itu sangat banyak sekali. Mulai dari gajinya tidak dibayar, pemalsuan dokumen, diperas agen, dan lainnya,” jelas dia.(madiunpos.com)