Menangkal Kanker Serviks dari Bangku SD

SURABAYAONLINE.CO-Kata ‘suntik’ dan bayangan jarum yang menembus kulit tidak membuat takut lima siswi kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Johar Baru 01 Pagi, Jakarta Pusat. Pada Oktober lalu, mereka justru mengantre di sekolah untuk mendapatkan vaksinasi HPV secara gratis.

Kelima siswi kelas 5 sekolah dasar tersebut mengaku mendapat dorongan dari orang tua mereka.

“Kata mama saya disuntik vaksin itu bagus, untuk mencegah kanker serviks,” celoteh salah seorang siswi.

Jumlah murid perempuan kelas 5 SDN Johar Baru 01 Pagi sejatinya mencapai 12 orang. Sisanya tidak mendapat vaksinasi HPV karena orang tua mereka menolak.

“Teman-teman kami yang lain tidak disuntik karena tidak diizinin orang tuanya. Karena takut masa depannya ada masalah,” celetuk seorang siswi.

Supartini, selaku kepala sekolah, mengamini bahwa beberapa orang tua murid takut vaksinasi HPV bakal berimbas negatif terhadap kesehatan reproduksi anak mereka. Menurutnya, penolakan sejumlah orang tua terjadi setelah muncul pesan berantai di media sosial mengenai bahaya vaksin tersebut bagi kaum perempuan di kemudian hari.

“Sayang sekali penyuluhan mengenai vaksinasi HPV dari puskemas atau dari dinas kesehatan hanya ada sekali sehingga tidak bisa mengimbangi informasi yang beredar di media sosial,” kata Supartini.

‘Tiada efek samping’

Selama sebulan terakhir, pesan berantai di media sosial menyebutkan pemberian vaksinasi HPV ke siswi-siswi sekolah dasar akan menyebabkan menopause dini.

Apakah memang demikian? Dokter Andrijono, ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia, mengatakan vaksinasi HPV tidak memiliki efek samping.

“Kalau ada efek sampingnya, pemberian vaksinasi HPV di Amerika Serikat dan Australia sudah dihentikan. Pemberian vaksinasi HPV di negara-negara itu sudah dilaksanakan 10 tahun, sedangkan kita baru mulai,” ujarnya.

Amerika Serikat merekomendasikan vaksinasi HPV diberikan kepada anak praremaja berusia 11 hingga 12 tahun, sedang di Inggris diberikan ke anak perempuan usia 12 hingga 13 tahun. Mayoritas negara-negara Eropa Barat merekomendasikan vaksin diberikan kepada anak usia 12 tahun.

Ratusan tipe virus

HPV adalah singkatan dari human papillomavirus atau virus papilloma pada manusia. Menurut dokter Andrijono, HPV terdiri dari sedikitnya 150 tipe virus dan setiap tipe diberi nomor.

HPV jinak adalah tipe 6 dan 11 yang umumnya menyebabkan kutil pada kelamin. Ada pula yang menyebabkan kanker, seperti tipe 16 dan 18.

“Secara keseluruhan ada 19 tipe HPV yang menimbulkan kanker. Jenis kankernya pun bermacam-macam, seperti kanker vagina, kanker vulva, kanker mulut, kanker lidah, kanker penis, kanker anus, dan kanker serviks atau leher rahim,” kata dokter Andrijono.

aling banyak kedua oleh kaum perempuan setelah kanker payudara. Jumlah perempuan yang meninggal dunia akibat kanker serviks di Indonesia mencapai 33 orang setiap hari.

Menurunkan risiko penularan

Alasan mengapa seseorang terkena virus HPV utamanya memang karena berganti-ganti pasangan seksual. Namun, penyebabnya tak melulu seperti itu, kata dokter Andrijono.

“Virus HPV ada di mana-mana. Virus itu bisa saja masuk melalui vagina melalui air yang kotor, melalui WC yang kotor, melalui tangan. Virus HPV juga bisa menular melalui sentuhan kulit. Karena itu, meski pasangan seksualnya hanya satu, risiko tertular tetap ada,” paparnya.

Di Indonesia, kanker serviks membunuh puluhan perempuan setiap hari. (BBC INDONESIA)

Untuk menurunkan risiko penularan, dokter Andrijanto amat menyarankan vaksinasi.

“Sebanyak 70% kanker serviks di dunia, termasuk di Indonesia, disebabkan HPV tipe 16 dan 18. Jadi kalau seseorang divaksinasi dengan vaksin untuk melindungi HPV tipe 16 dan 18, otomatis orang itu punya kans 70% terlindungi dari kanker serviks. Tahun depan ada vaksin untuk melindungi dari sembilan tipe HPV, kans-nya lebih tinggi lain, sekitar 90%,” tutur dokter Andrijanto.

Mengapa siswi SD?

Lalu, pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa vaksinasi diberikan kepada siswi sekolah dasar?

Dokter Jane Soepardi, selaku direktur surveilans dan karantina kesehatan Kementerian Kesehatan, mengatakan vaksinasi HPV akan lebih efektif diberikan kepada seseorang yang belum terinfeksi HPV.

“Data dari seluruh negara, rata-rata yang belum berhubungan seksual adalah yang berusia 9 hingga 13 tahun. Karena itu, kami menyuntikkan vaksin ini kepada siswi kelas 5 sekolah dasar,” kata Jane.

Pemberian vaksinasi HPV juga tidak bisa diberikan sekali saja. Jane mengatakan dosis vaksinasi HPV untuk siswi SD sebanyak dua kali suntik, dengan jarak enam bulan hingga satu tahun.

“Tahun depan kita akan suntik murid-murid kelas 6 sebagai dosis kedua dan murid kelas 5 yang baru,” kata Jane.

Menurut Jane, program imunisasi HPV ditargetkan menjangkau 70.000 murid SD di Jakarta dan 20.000 murid SD di DIY Yogyakarta.

Jane menjelaskan bahwa harga vaksin HPV sangat mahal, sekitar Rp700.000-Rp1.000.000 per dosis namun jauh lebih kecil di bawah biaya perawatan kanker serviks di rumah sakit, jadi tergolong cost-effective.

“Vaksin ini mampu dan cukup cost-effective.”

Untuk program uji coba di DKI Jakarta dan Yogyakarta, pemerintah pusat bekerja sama dengan GAVI (Global Alliances fro Vaccine and Immunization), yang akan menghibahkan vaksin HPV untuk di Yogyakarta.

GAVI adalah kemitraan yang berkomitmen mendistribusikan penggunaan vaksin untuk meningkatkan kesehatan anak di negara-negara berkembang dalam bentuk hibah. Organisasi ini didanai oleh Yayasan Bill & Melinda Gates, sejumlah negara Eropa Barat serta beberapa organisasi amal lainnya.(bbc)