Yusron Aminulloh: Inilah Guru Kehidupan

SURABAYAONLINE.CO – Guru yang berlilmu pengetahuan melimpah, pemahaman metode didaktik yang mendalam dan pemahaman psikologi anak yang luas, hanyalah modal awal bagi guru untuk memasuki wilayah kewibawaan. Dibalik itu, harus didukung tauladan, keikhklasan dan kesungguhan menjalankan amanah.

Seringkali di depan ribuan guru dalam berbagai pelatihan Mindset Pembelajaran, saya mengutip realitas yang berbeda antara guru zaman dulu, dan guru masa kini. Kalau dulu, guru dengan sepeda ontelnya dan taskulit tebal yang menyertai, saat masuk halaman sekolah, paramurid berebut untuk mengambil sepeda itu untuk di “parkir”kan.

Sedangkan tas dipakai rebutan siswa untuk dibawa ke kelas. Zaman sekarang, guru meski membawa sepeda motor -bahkan–mobil, tidak ada satupun anak yang mendekat. Apalagi membawakan tas sang guru.
Bahkan, perbedaan itu makin tajam saat relasi guru dan murid saat di kelas.

Di zaman dulu, saat sang gurun mengajar dan ingin keruang guru, Guru tinggal bilang : “Anak-anak, bapak kekantor sebantar,” ucap sang Guru sambil meletakkan kopyahnya di meja. “Janganramaiya, tetapmencatat,” pesannya.

“Iya pak guruuuuu.” Jawab murid kompak.
Rupanya ada satu anak iseng mengajak bicara, hingga terkesan ada suara. Maka ia ditegur kawan yang lain.

“Hush hush jangan ramai, ada kopyah pak Guru.” Jawab siswa yang lain.

Begitu fenomena ini saya tanyakan kepada para guru di pelatihan, Bagaimana kalau guru sekarang meletakkan kopyahnya di kelas?
“Yadipakai lempar-lemparan pak sama anak-anak,” jawab para guru. “Mungkinmalahdipakai main bola,”jawab guru yang lain.

KAYAKNYA, cerita ini lugu dan biasa-biasa saja, tetapi dibalik peritiswa itu tampak jelas pebedaan wibawa guru zaman dulu dengan guru sekarang.

Meski ukuran kualitatifnya tidak signifikan, namun, setidaknya memberikan gambaran, betapa zaman sudah berubah, Karakter anak beda, maka guru seharunya juga mau berubah.

Padasisi yang lain, kewibawaan sekarang menjadi “barang” yang mahal. Bahkan ada yang ekstrim, murid berani merendahkan guru, melecehkan dan yang umum, meremehkan,

Hal ini disebebakan, kurangnya upaya guru membangun sederet wibawa,setumpuk derajat dengan dinafasi keikhlasan. Guru yang berlilmu pengetahuan melimpah, pemahaman metode didaktik yang mendalam dan pemahaman psikologi anak yang luas, hanyalah modal awal bagi guru untuk memasuki wilayah kewibawaan.

Dibalikitu, harus didukung tauladan, keikhklasan dan kesungguhan menjalankan amanah.

Apalagi anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Anak sekarang membaca pengetahuan lebih banyak dari pada guru, karena sumber IT ditangan mereka.

Sementara hanya sedikit guru yang care dengan IT, sehingga mereka secara tidak langsung ketinggalan beberapa langkah dengan anak didiknya.

Itulah yang menyebabkan, kita sulit menemukan tulisan guru. Buku yang ditulis guru masih sangat minim dibanding jumlah jutaan guru di Indoensia.

Tulisan dunia pendidikan ditulis oleh pengamat pendidikan, banyak beredar. Tetapi tulisan para guru, menampilkan kegelisahannya, pengalamannya, keinginannya, dalam satu frame besar, adalah hal yang langka.

Guru sebenarnya ahli membaca dalam konteks lain. Yakni membaca gejala kehidupan,membaca perilaku anak didik, membaca beban beban guru mengaplikasikan ragam kurikulum yang membebani dan bacaan berupa teks di alam semesta. Sayang, guru masih sulit menuliskan apa yang mereka lihat, alami dan rasakan.

Kesucian Guru
Alhamdulillah 5 tahun ini, saya diperjalankan oleh Nya bertemu dengan hampir 100 ribu guru dalam pelatihan Menebar Energi Positif (MEP), sebuah lembaga yang saya dirikan dengan kawan-kawan untuk menenman guru di Indonesia.

Hampir tiap minggu, kami bertemu dengan para guru. Mulai dari Jawa Timur hingga Kalimantan Timur, dari Banten hingga Banyuasin, dari Jombang hingga Jember dan seterusnya.

Banyak potret perjuangan guru yang layak menjadi cermin kita. Saya sering meminta para guru dalam pelatihan untuk maju dan menceritakan perjalanan hidup dan perjuangannya. Hal ini diperlukan untuk menjadi pelajaran bagi guru-guru muda yang kini tidak mengalami perjuangan seperti itu.

“Dulu, gaji saya Rp10 Ribu, sebulan. Tiap hari kami naik sepeda angin 14 KM dari rumah kesekolah. Jalan masih rusak, sehingga kalau hujan tidak bisa dinaiki. Saya sering tidak masukkan baju kalau mengajar, karena sabuk saya, tali raffia,” tutur lancar seorang guru.

“Saya bahkan sering menjemput anak anak biar mau masuk sekolah. Maklum, orang tuanya memilih anaknya ikut kerja kesawah dibanding kesekolah,” tambahnya.

“Maka, kadang di sekolah kami juga harus memandikan anak-anak kelas 1 saat di sekolah. “tutur seorang guru asal Malang, Jawa Timur menceritakan perjuangan selama menjadi guru 32 tahun.
“Tapi kebahagiaan kami adalah tatkala mereka sekarang sukses. Disapa mereka-mereka yang sekarang sukses, adalah hadiah terindah bagi kami.“

Seorang guru di Balikpapan bercerita beda. “Dulu saya masuk Kaltim masih hutan. Belum ada jalan-jalan bagus seperti sekarang. Tapi kami bersyukur sekarang guru sudah dihargai oleh pemerintah. Zamandulu, kami berjuang bersama kawan-kawan dengan susah payah. Bahkan sebagai pendatang kami dicurigai. Perbedaan kultur, suku akhirnya membuat kami matang dan paham perbedaan.”

Ragam cerita ini mengantar saya dalam tiga kesimpulan :

Pertama, Sebagaian besar guru ingin berubah. Menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hanya kebingungan mereka tidak ada pemicu untuk melakukan perubahan. Akibatnya, merekatetap “biasa-biasa” saja, tetap setia menjalani profesi guru dengan apa adanya. Sejumlah training selama ini terasa monoton, sehingga guru mengikuti tanpa rasa. MEP hadir memberi jawaban atas kegelisahan itu, kata mereka dalam testimoninya.

Kedua,Sebagaian besar guru di Indonesia mengakui tidak suka membaca buku. Apalagi menulis. Akibatnya, perbendaharaan kata dan kalimat mereka minim. Sehingga cara mengajar, kalimat yang digunakan monoton bahkan agitatif. Akibat negatifnya, mereka sering berbicara kasar, vulgar kepada murid.
Padahal tanaman keindahan lewat kalimat yang diucapkan adalah modal awal kewibawan. Bahkan karena tidak sukamembaca, banyak guru kalah wawasan dengan muridnya.

Ketiga, Ada situasi dimana guru malu belajar pada muridnya. Padahal realitas menunjukkan, banyak guru yang kalah “pintar” dengan muridnya. Baiksoal IT maupun pengetahuan umum. Artinya, ada perubahan zaman yang mengharuskan guru belajar berubah.

Konteks guru belajar padamurid bukan berarti guru dalam posisi kalah, namun harus memahami bahwa murid, adalah salah satu sumber referensi ilmu. Bahkan anak-anak kita sekarang adalah guru kehidupan. ***

* Penulis adalah Master Trainer MEP, Penggerak Literasi Nasional, alamat di Email:cyaminulloh@gmail.com