Rekonstruksi Bojonegoro: Korban Diancam Diperkosa di Pinggir Sungai Kemudian Ditenggelamkan

SURABAYAONLINE.CO – Penyidik Polres Bojonegoro merekontruksi kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap korban Cahya Zahra Amelia (10) pelajar kelas 5 Sekolah Dasar (SD), asal Desa Pengkol, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Senin (1/8/2016).

Dalam reka ulang tersebut, penyidik mendapatkan fakta baru adanya unsur ancaman kekerasan sebelum tersangka Ahmad Rifa’i (19) yang tak lain sepupu korban melakukan aksi pemerkosaan dan berujung pembunuhan, pada Minggu (17/7/2016).

Kapolres Bojonegoro, AKBP Wahyu Sri Bintoro mengungkapkan, dalam 47 adegan yang diperagakan tersangka, mulai dari tersangka ke rumah korban, hingga adegan pemerkosaan serta pembunuhan dan tersangka menimbun tubuh korban di bawah daun bambu kering.

Fakta baru yang muncul, menurut Kapolres, dalam pemeriksaan sebelumnya tersangka mengaku tidak melakukan ancaman sebelum mengajak korban berhubungan badan. Namun saat reka ulang, tersangka mengancam dan memaksa korban untuk melayani nafsunya.

“Introgasi pertama mengaku tidak ada unsur kekerasan. Setelah direkontruksi ketemu unsur ancaman yang dilakukan tersangka. Dengan cara bilang ‘Ayo anu’ (bersetubuh) korban tidak mau dan dipaksa,” ujarnya.

Dalam reka ulang tersebut, perbuatan tersangka sudah direncanakan dengan mengajak korban mandi di sungai sekitar rumah korban. Seperti pada adegan ke 12, antara tersangka dan korban sudah sama-sama telanjang sebelum mandi. Kemudian pada adegan ke 14 tersangka mulai mengajak korban berhubungan badan.

Karena korban menolak, kemudian dilanjutkan pada adegan ke 15 saat tangan kanan korban ditarik oleh tersangka ke tepi sungai dan menyetubuhi korban. Setelah disetubuhi, tersangka kemudian menenggelamkan dan memukul kepala korban menggunakan batu untuk menghilangkan nyawa korban.

Rekontruksi dilakukan bukan di tempat kejadian perkara. Rekontruksi dilakukan di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Hal itu mengingat, kata Kapolres, lokasi pembunuhannya berada di tebing sehingga dikawatirkan tersangka kabur. Selain itu juga antisipasi jika masih ada dendam dari pihak keluarga korban.

“Alhamdulillah proses rekontruksi berjalan lancar dengan mengerahkan 50 personil yang melakukan penjagaan,” ungkapnya. Setelah proses rekontruksi ini, pihak penyidik tinggal melengkapi berkas, setelah itu dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Tersangka pembunuhan tersebut dijerat pasal 80 ayat (3) dan atau pasal 81 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 388 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.