Jembatan Putus 1.200 jiwa di Desa Pangkal Sawoo Ponorogo Terisolir

SURABAYAONLINE.CO – Sebuah jembatan penghubung antardesa di Desa Pangkal, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur patah akibat salah satu pondasi beton penyangga ambrol diterjang banjir, Rabu (11/5/206) malam. “Aliran (debit) air meningkat tajam beberapa hari kemarin saat turun hujan deras,” kata perangkat Desa Pangkal, Didik Sumariyanto di Ponorogo, Kamis (12/2016).

Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun menurut Didik, patahnya jembatan penghubung antardesa itu menyebabkan sedikitnya 416 KK atau sekitar 1.200 jiwa di Dusun Pangkal saat ini terisolir.

Didik mengatakan, tidak ada jalur alternatif yang bisa digunakan warganya, kecuali berjalan kaki menyeberangi dasar sungai saat air surut.

Namun untuk kendaraan roda dua atau lebih, kata dia, sementara tidak bisa bermobilisasi lintaspemukiman karena badan jembatan bagian tengah jatuh ke dasar sungai sehingga membentuk seperti huruf “V”.

“Ada sekitar delapan RT, dengan penduduk sekitar 416 kepala keluarga, terisolir akibat putusnya jembatan ini. Tidak ada lagi jalan alternatif untuk bisa keluar dari desa,” ujarnya.

Mengatasi masalah tersebut, kata Didik, aparat TNI/Polri bersama warga telah melakukan kerja bakti membuat jembatan darurat menggunakan tangga bambu.

Akses darurat tersebut khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki yang hendak melintas dari satu sisi sungai ke seberang. “Warga bergantian bersiaga di sini untuk membantu anak-anak yang hendak pergi maupun pulang dari sekolah,” ujarnya.

Belum ada rencana perbaikan ataupun pembangunan kembali oleh pemerintah daerah setempat.

Didik mengatakan perangkat kecamatan maupun petugas dari dinas pekerjaan umum maupun pengairan telah datang meninjau lokasi jembatan patah, namun belum memastikan kapan perbaikan dilakukan. “Warga berharap pemerintah secepatnya membangun kembali jembatan ini,” kata Didik.

Tergerus air
Babinkamtibmas Desa Pangkal, Bripka Rio Bagus, mengatakan peristiwa ambrolnya jembatan Pangkal bermula saat hujan mngguyur wilayah itu dengan deras sejak pukul 16.00 WIB hingga malam.

Air sungai yang ada di bawah jembatan itu mengalir sangat deras hingga meruntuhkan tiang penyangga jembatan. Jembatan itu pun seketika roboh dan memutuskan akses jalan di desa tersebut.

“Kemarin sore [Rabu] itu hujannya sangat deras, kemungkinan tiang jembatan tidak kuat menahan laju aliran air dan membuat jembatan roboh,” kata dia kepada Madiunpos.com.

Rio menambahkan jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses jalan bagi 1.200 jiwa yang ada di Dukuh Pangkal. Sehingga, dengan jembatan tersebut roboh, aktivitas warga Pangkal pun terhenti.

Warga yang ingin keluar dari dukuh itu, kata Rio, harus melewati jembatan yang rusak. “Ini yang bisa lewat hanya pejalan kaki, kalau motor ya ga bisa lewat,” ujar Rio.

Dia mengatakan jembatan tersebut dibangun pada tahun 1996 dan hingga bencana ini datang, belum ada peristiwa seperti saat ini. Dia menduga tiang tersebut sudah rapuh karena secara terus menerus dibebani kendaraan yang melebihi tonase.

“Soalnya jembatan ini akses satu-satunya, terkadang ada truk pengangkut bahan bangunan, pengangkut hasil panen, dan kenderaan bertonase besar lewat sini. Sehingga lama kelamaan jembatan rapuh dan roboh saat diterjang aliran air yang deras,” jelas Rio. (*)